Forum ini adalah tempat berkumpulnya para Pecinta Bokep dan sejenisnya, jika kalian mempunyai foto, video, gambar atau sejenisnya yg lain-lain Share aja disini
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Mona Gadis Imut Pemuas Nafsuku

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
rouet
Bayi
Bayi


Jumlah posting : 8
Reputation : 0
Join date : 21.05.11

PostSubyek: Mona Gadis Imut Pemuas Nafsuku   Sun May 22, 2011 4:53 am

Cerita ini bermula dari waktu saya masih berumur kurang lebih 10
sampai 13 tahun. Persisnya saya sudah lupa. Waktu itu saya mempunyai
teman bernama Alex. Alex tinggal dengan keluarganya tidak jauh dari
tempat saya tinggal. Alex mempunyai seorang kakak perempuan bernama
Mona. Umurnya 4-5 tahun lebih tua dari kami, jadi waktu itu saya dan
Alex masih SD kelas 5, sedangkan dia sudah SMA.
Mona ini orangnya seksi sekali. Bukan berarti dia sering pakai baju
seksi atau bicara yang nyerempet-nyerempet hal begituan, tapi tidak tahu
kenapa kalau saya sedang berada dalam satu ruangan dengan dia, selalu
pikiran saya membayangkan hal-hal yang erotik tentang dia yang saya
tidak pernah terpikirkan sama wanita lain.
Tubuhnya sebetulnya biasa-biasa saja, tidak terlalu tinggi, tapi
proporsional. Dan kalau orang sekarang bilang, body-nya bahenol dan
tetap jelas lekuk-lekuk tubuhnya tampak bila dia berpakaian. Rambutnya
panjang sebahu dengan payudara yang sedikit lebih besar dari rata-rata,
dan mengacung ke atas.
Suatu ketika saya sedang main ke rumah Alex, Ayah Mona sedang
membetulkan mobilnya di kebun depan rumah Mona. Kami semua berada di
situ melihat ke dalam mesin mobil tersebut. Saya berdiri persis
kebetulan di sebelah Mona. Dia berada di sebelah kanan saya. Pada waktu
itu Mona memakai baju jenis baju tidur, berbentuk celana pendek dan baju
atasan. Warnanya biru muda sekali sampai hampir putih dengan gambar
hiasan bunga-bunga kecil yang juga berwarna biru muda.
Lengan bajunya lengan buntung, dan pas di pinggir lengan bajunya di
hiasi renda-renda berwarna putih manis. Bajunya karena itu pakaian tidur
jadi bentuknya longgar dan lepas di bagian pinggangnya. Bagian bawahnya
berupa celana pendek longgar juga, sewarna dengan bagian atasnya dengan
bahan yang sama.
Semua melihat ke dalam mesin mobil sehingga tidak ada yang melihat ke
arah saya. Pada saat itu lah saya melirik ke arah Mona dan melihat
payudara Mona dari celah bawah ketiaknya. Perlu diingat bahwa tinggi
badan saya pada umur itu persis sepayudara Mona. Dia tidak menggunakan
BH waktu itu. Puting susunya yang coklat dan mengacung kelihatan dengan
jelas dari celah itu karena potongan lengan bajunya yang kendor. Hampir
seluruh payudara Mona yang sebelah kiri dapat kelihatan seluruhnya.
Tentu saja dia tidak sadar akan hal itu.
Suatu ketika ada juga saat dimana kami sedang bersama-sama melihat TV
di ruang tamu. Saya duduk di sofa untuk satu orang yang menghadap
langsung ke TV. Dan Mona duduk di sofa panjang di bagian sebelah kiri
dari TV di depan kiri saya. Saya dapat langsung melihat TV, tapi untuk
orang yang duduk di sofa panjang itu harus memutar badannya ke kiri
untuk melihat TV, karena sofa panjang tersebut menghadap ke arah lain.
Mona akhirnya memutuskan untuk berbaring telungkup sambil melihat TV
karena dalam posisi tersebut lebih mudah. Dia memakai baju tidur berupa
kain sejenis sutera putih yang bahannya sangat lemas, sehingga selalu
mengikuti lekuk tubuhnya. Baju tidur ini begitu pendek sehingga hanya
cukup untuk menutupi pantat Mona. Bagian atasnya begitu kendor sehingga
setiap kali tali bahunya selalu jatuh ke lengan Mona dan dia harus
berulang-ulang membetulkannya.
Dalam posisi telungkup begitu baju tidurnya pun tersingkap sedikit ke
atas dan menampakkan vagina Mona dari belakang. Kebetulan saya duduk di
bagian yang lebih ke belakang dari pada Mona, jadi saya dapat melihat
langsung dengan bebasnya. Semakin dia bergerak, semakin bajunya
tersingkap ke atas pinggulnya. Mona pada saat itu tidak memakai pakaian
dalam sama sekali, karena kebetulan rumah sedang sepi dan sebetulnya itu
waktu tidur siang.
Kadang-kadang pahanya merenggang dan vaginanya lebih jelas kelihatan
lagi. Mona agaknya tidak perduli kalau saat itu saya sedang berada di
situ juga. Sesekali dia bangun untuk ke dapur mengambil minum, dan
sekali ini tali bajunya turun lagi ke lengannya dan menampakkan sebagian
payudara kiri Mona. Kali ini dia tidak membetulkannya dan berjalan
terus ke arah dapur.
Karena banyak bergerak dan membungkuk untuk mengambil sesuatu di
dapur, akhirnya payudara kirinya betul-betul tumpah keluar dan
betul-betul kelihatan seluruhnya. Sambil berjalan balik dari dapur, Mona
tidak kelihatan perduli dan membiarkan payudara kirinya tetap
tergantung bebas. Sesekali dia betulkan, tapi karena memang baju
tidurnya yang belahan dadanya terlalu rendah, akhirnya turun lagi dan
turun lagi. Dan setiap kali payudaranya selalu meledak keluar dari balik
bajunya, kalau tidak yang sebelah kanan yang sebelah kiri. Mona tetap
kelihatan seperti tidak terjadi apa-apa, walaupun satu payudara terbuka
bebas seperti itu.
Mona kembali berbaring telungkup di sofa panjang melihat ke arah TV.
Sekarang payudara kanannya yang tergantung bebas tanpa penutup. Setelah
beberapa lama dan menggeser-geser posisinya di atas sofa, sekarang baju
tidurnya sudah tidak rapi dan terangkat sampai ke pinggulnya lagi.
Karena posisi pahanya yang sekarang tertutup, saya hanya dapat melihat
sebagian bawah pantat Mona yang mulus dan sexy.
Mona menggeser posisinya lagi, dan sekarang tali baju yang sebelah
kiri turun. Sekarang kedua payudaranya bebas menggantung di tempatnya
tanpa penutup. Dari posisi saya tentunya hanya dapat melihat yang bagian
kanannya karena saya duduk di bagian kanan. Mona balik lagi ke dapur
untuk yang kesekian kalinya mengambil minum dan tetap membiarkan
payudaranya terbuka dengan bebas. Dan balik lagi telungkup melihat TV.
Saya mencoba mengajaknya mengobrol dalam posisi itu. Tentu saja tidak
mungkin karena dia menghadap ke arah TV. Pertama-tama dia ketahuan
sedang malas diajak ngobrol dan hanya terlihat ingin melihat TV. Karena
saya tetap bertanya-tanya ini itu ke dia, akhirnya dia pun mulai
menanggapi saya.
Suatu ketika karena dia harus menghadap saya tetapi malas duduk,
akhirnya dia membalikkan diri ke arah kanan untuk menghadap ke saya.
Pada saat itu lah vaginanya terlihat dengan sempurna terpajang menghadap
saya. Perlu diketahui, payudara Mona masih tetap tergantung bebas dan
padat tanpa penutup karena dia tidak repot-repot lagi membetulkan letak
tali bajunya.
Baju tidur Mona terangkat lagi sampai ke pinggul. Dan dia tetap
ngobrol seperti seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Cukup lama juga kami
ngobrol dengan posisi dia seperti itu. Kadang-kadang malah kakinya
mengangkang menampakkan vaginanya. Dan dia tetap bersikap seakan-akan
tidak ada apa-apa dan tetap berbicara biasa.
Akhirnya saya tidak kuat lagi. Suatu saat, pada saat dia mengambil
makanan dari atas meja dan posisinya membelakangi saya, vagina Mona
mengintip dari celah pahanya dari belakang tepat 1-2 meter di depan
wajah saya. Saya buka retslueting saya yang dari tadi sudah berisi penis
yang sudah keras tidak kepalang tanggung, dan mengeluarkannya dari
celana dalam saya.
Dari belakang saya menghampiri Mona perlahan. Pada saat ini dia masih
belum tahu dan masih tetap memilih-milih makanan, sampai terasa ada
tangan yang memegang kedua payudaranya dari belakang dan merasakan ada
benda panjang, besar dan hangat menyentuh-nyentuh di sela-sela paha dan
belahan pantatnya.
Mona terkejut. Saya tetap meremas dan memainkan kedua payudara Mona
dengan kedua tangan saya dan mulai perlahan-lahan menyelipkan penis saya
ke dalam vaginanya. Vagina Mona selalu basah dari pertama karena dia
dapat menjaga situasi dirinya sehingga tetap basah walaupun pada
saat-saat dia tidak nafsu untuk bermain sex. Penis saya masuk ke dalam
Vagina Mona dari belakang. Mona melenguh tanpa dapat berbuat apa-apa
karena semuanya berlangsung begitu cepat. Tangannya bertumpu ke atas
meja makan.
Mungkin dia bertanya-tanya juga dalam hati, ini anak SD tapi nafsunya
sudah seperti orang dewasa. Saya mulai membuat gerakan maju mundur
sambil tangan saya masih meremas-remas payudaranya. Mona
terdorong-dorong ke meja makan di depannya, payudaranya bergoyang-goyang
seirama dengan dorongan penis saya ke dalam vaginanya. Kaki Mona dalam
posisi berdiri mengangkang membelakangi saya.
Akhirnya saya klimaks. Sperma demi sperma menyemprot dengan kuatnya
ke dalam vagina Mona, sebagian meleleh keluar dari dalam vagina ke
bagian paha dalam Mona yang masih berdiri mengangkang membelakangi saya.
Setelah semprotan terakhir di dalam vagina Mona, kami masih berdiri
lemas tanpa merubah posisi. Kepala saya lunglai ke depan, kepala Mona
juga, napas kami terengah-engah, dan keringat banjir membasahi tubuh
kami.
Akhirnya saya menarik penis saya keluar dari vagina Mona, dan kembali
memasukkannya ke dalam celana dalam dan menarik kembali retslueting ke
atas. Mona masih terengah-engah dalam posisi yang belum berubah bertumpu
dengan kedua tangan ke atas meja makan. Vagina dan belahan pantatnya
masih terpajang bebas bergerak seirama dengan desah napasnya.
Saya kembali duduk di depan TV, dan Mona kembali ke sofa panjang
tempat tadi dia berbaring, tapi sekarang dia tidak telungkup, melainkan
duduk tanpa membetulkan letak dan posisi bajunya atau membersihkan
bekas-bekas sperma dan keringat yang ada di sekujur tubuhnya.
Mona duduk bersandar rileks dan vaginanya terlihat terpajang dengan
jelas karena posisi duduknya yang terbuka lumayan lebar. Matanya
setengah terpejam tergolek di atas sandaran sofa. Tangannya lunglai di
samping badannya. Napasnya masih terengah-engah. Dia melirik sedikit ke
arah saya dan tersenyum. Saya pun tersenyum nakal padanya bagaikan
normalnya anak umur 13 tahun. Dan dia berdiri berjalan masuk menuju ke
kamar tidurnya.
Mona ini kalau lagi merasa sendirian di rumah memang betul-betul
cuek. Pada saat lain dimana saya sedang main ke rumah Alex tapi Alexnya
belum pulang sekolah, Mona kerap kali memakai baju semaunya dan sangat
minim tanpa repot-repot pakai pakaian dalam. Kadang-kadang hanya memakai
T-shirt sebatas pantat yang kebesaran dan longgar tanpa pakai apa-apa
lagi, dan sudah kebiasaan Mona kalau duduk posisinya tidak rapi,
sehingga pinggul dan selangkangannya seringkali merenggang dan
menampakkan vaginanya yang segar dan basah.
Kadang-kadang dia hanya memakai gaun tidur putih ‘backless’ tipisnya
yang mini dengan belahan dada rendah sebatas puting, sehingga puting
susunya seringkali nampak mengintip keluar. Atau mondar-mandir hanya
memakai kimono handuk hijau mudanya sebatas paha. Dan kalau pakai kimono
begitu dibiarkannya tali pinggangnya tidak diikat hingga bagian
depannya tubuhnya terbuka. Jalan ke dapur atau duduk nonton TV di sofa
tanpa membenarkan letak kimononya, atau makan siang setengah telanjang.
Dan Mona sudah biasa begitu jika merasa tidak ada orang di rumah.
Vaginanya selalu bebas tanpa penutup.
Ada kalanya dimana dia baru pulang sekolah dan masih berbaju SMA
putih abu-abu. Semasuknya di rumah yang pertama dilepas adalah celana
dalam dan BH-nya dulu. Dan itu dilakukannya dengan ekspresi seperti dia
sedang melepas sepatu dan kaos kakinya, yaitu di ruang tamu, dan di
depan mata saya.
Pernah celana dalam dan BH-nya dilempar ke arah wajah saya sambil dia
tertawa bercanda, atau biasanya dilemparkan saja semaunya di lantai.
Terus biasanya dia kemudian makan siang sambil nonton TV dengan baju
OSIS SMA-nya ditambah payudaranya
yang montok padat berisi dan terkocok-kocok jika Mona bergerak dengan
puting susunya yang tercetak jelas. Biasanya penis saya perlahan-lahan
mengeras.
Kalau lagi tidak tahan, tanpa basa basi saya buka retslueting celana,
keluarkan penis, angkat rok SMA-nya sampai ke pinggang, tidak perduli
dia sedang melakukan apa dan memasukkan penis saya tanpa minta ijin dia
dulu. Biasanya sih dia kaget, tapi tidak berkata apa-apa sambil mulai
menikmati gerakan penis saya mengaduk-ngaduk vaginanya.
Setelah sperma saya tumpah di dalam, dia pun kembali meneruskan
apapun aktivitasnya yang sempat terhenti oleh sodokan penis saya. Malah
seringkali sepertinya aktivitas Mona tidak terganggu dengan adanya
gesekan penis tegang dalam vaginanya. Karena pernah suatu waktu dia
masak di dapur dengan telanjang bulat karena mungkin pikirnya tidak ada
orang di rumah.
Selagi dia masih menghadap ke arah kompor, pelan-pelan dari belakang
saya menghampiri dengan penis teracung. Perlahan-lahan saya selipkan
penis berat saya yang sudah keras di antara celah selangkangannya dari belakang.
Dia kaget dan menengok sebentar, dengan suaranya yang khas dan nada cuek biasanya dia hanya bilang, “Eh kamu..!”
Kemudian secara refleks dia melebarkan posisi antara kedua kakinya,
sedikit menunggingkan pantatnya dan membiarkan saya bermain dengan
payudaranya dan melanjutkan memasukkan penis saya dari belakang dan
menyantapnya sampai selesai.
Memang karena badan saya yang masih setinggi bahunya, setiap kali
saya harus naik ke kursi agar dapat memasukkan penis saya ke dalam
vagina Mona. Dan itu saya lakukan ‘anytime-anywhere’ di rumahnya selama
hanya ada Mona sendiri di rumah.
Sepertinya Mona begitu merangsang karena pakaiannya dan cara dia
menempatkan posisi tubuhnya yang seakan-akan selalu menyediakan
vaginanya yang segar, bersih, sehat, basah dan berlendir itu 24 jam buat
limpahan sperma dari penis saya yang bersih, besar, berat dan panjang
(walaupun waktu itu saya masih di bawah umur) ini di dalamnya. Mungkin
ini yang membedakan dia dengan remaja-remaja perempuan lainnya.
Koleksi Cerita Dewasa




Posted in Daun Muda | No Comments »




Kisah hilangnya Keperawanan


Tuesday, January 27th, 2009


Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang ketika kami berdua
sampai di perumahan tempat kakak laki-laki mas Ari, cowok yang sedang
mendekati aku, yang sedang kosong itu. Dia ganteng dan badannya keker,
aku suka dia mendekatiku walaupun beda umurnya jauh denganku. Setelah
menutup pagar depan, segera dia mengajakku untuk masuk ke dalam rumah.
Dia segera memeluk tubuhku dan dengan sedikit bernafsu segera disosornya
pipiku dengan bibirnya. Aku sangat terkejut melihat ulahnya, “Eeeh Mas,
kok gitu sih ” kataku memandangnya sambil melotot. Namun dia dapat
segera mengendalikan diri, sambil tersenyum dia segera meraih tanganku
dan ditariknya masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu terasa sekali
di dalam suasana agak remang-remang karena gorden masih tertutup.
Sambil tetap memegang tanganku erat-erat, dia menatap wajahku, wajahku
masih cemberut dan kelihatan marah. Sambil tetap tersenyum dia berkata
“Nes, itu tadi berarti aku sayaang sama kamu, apa nggak boleh aku ngasih
sun sayang?” rayunya. “Mas gitu sih”,aku tetap merajuk kepadanya, aku
menarik lepas tanganku dari genggamannya dan berjalan menuju ke sofa
ruang tamu. Saat itu aku mengenakan celana ketat dari kain yang cukup
tipis berwarna putih sehingga bentuk bokongku yang bulat padat begitu
kentara, dan bahkan saking ketatnya CDku sampai kelihatan sekali
berbentuk segitiga. Atasannya aku mengenakan baju kaos putih ketat dan
polos sehingga bentuk toketku yang membulat terlihat jelas, kaosku yang
cukup tipis membuat braku yang berwarna putih
terpampang jelas sekali. Aku menghempaskan pantatku di sofa, dia
menyusulku segera dan duduk rapat di sampingku, “Ines sayang” rayunya.
“Aku boleh kan cium bibir kamu, say” Aku semakin merajuk. “Ines sayang,
terus terang, hari ini aku kepingin bersama kamu, aku ingin memberikan
rasa kasih sayang ke kamu, asal kamu mau memberikan apa yang aku
inginkan, mau kan sayang?” rayunya lebih lanjut. Aku membelalak kaget ke
arahnya, “Maasss” Hanya kata itu yang kuucapkan, selanjutnya aku hanya
memandangnya lama tanpa sepatah katapun. Dia mengambil inisiatif dengan
menggenggam erat dan mesra kedua belah tanganku. “Ines sayang,
percayalah apapun yang kukatakan, itu bentuk rasa cinta dan kasih sayang
aku sama kamu say,
percayalah. Aku menginginkan bukti cintamu sekarang”,
Selesai berkata begitu dia mendekatkan mukanya ke wajahku, dengan
cepat dia mengecup bibirku dengan lembut. Hidung kami bersentuhan
lembut, aku kaget sehingga sama sekali tak memberontak. Dia mengulum
bibir bawahku, disedot sedikit. Lima detik kemudian, dia melepaskan
kecupan bibirnya dari bibirku. Aku saat kukecup tadi memejamkan mata,
“Bagaimana sayang, kau bersediakah?”, rayunya lebih lanjut. Dia berusaha
mengecup bibirku
lagi, namun dengan cepat aku melepaskan tangan kananku dari remasannya, dadanya
kutahan dengan lembut. “Mass” bisikku lirih. “Ines sayang, percayalah
sama aku”, rayunya lagi. “Tapi mass, Ines takut Mas”, jawabku. “Takut
apa sayang, katakanlah”, bisiknya kembali sambil meraih tanganku. “Anu,
Ines takut Mas nanti meninggalkan Ines”, bisikku. Dia menggenggam kuat
kedua tanganku lalu secepat kilat dia mengecup bibirku. “Ines sayangku,
aku terus terang tidak bisa menjanjikan apa-apa sama kamu tapi
percayalah aku akan membuktikannya kepadamu,
aku akan selalu sayang sama kamu”, bujuknya untuk lebih meyakinkanku.
“Tapi Mas” bisikku masih ragu. “Ines, percayalah, apa aku perlu
bersumpah sayang, kita memang masih baru beberapa hari kenal sayang tapi
percayalah yakinlah sayang kalau Tuhan menghendaki kita pasti selalu
bersama sayang”, rayunya lagi. “Lalu kalau Ines sampai hhaamil gimana
mass?” ujarku sembari menatapnya.”Aah, jangan khawatir sayang, aku akan
bertanggung jawab semuanya kalau kamu sampai hamil, yah aku pasti
mengawini kamu secepatnya, bagaimana sayang?” bisiknya. Tangannya
bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meremas jemari tangan kini
mulai meraba ke atas menelusuri dari pergelangan tangan terus ke lengan
sampai ke bahu lalu diremasnya dengan lembut. Dia memandangi toketku
dari balik baju kaosku yang ketat, “Mas harus janji dulu sebelum…” aku
tak melanjutkan ucapanku. “Sebelum apa sayang, katakanlah”,
bisiknya tak sabar. Kini jemari tangan kanannya mulai semakin nekat
menggerayangi pinggulku, ketika jemarinya merayap ke belakang diusapnya
belahan pantatku lalu diremasnya dengan gemas. “aahh… Mas”, aku merintih
pelan. “Mas aah mmas.. Ines rela menyerahkan semuanya asal Mas mau
bertanggung jawab nantinya”, aku berbisik semakin lemah, saat itu jemari
tangan
kanannya bergerak semakin menggila, menelusup ke pangkal pahaku, dan mulai mengelus gundukan bukit memekku.
Diusapnya perlahan dari balik celanaku yang amat ketat, dua detik
kemudian dia memaksa masuk jemari tangannya di selangkanganku dan bukit
memekku itu telah berada dalam genggaman tangannya. Aku menggelinjang
kecil, saat jemari tangannya mulai meremas perlahan. Dia mendekatkan
mulutnya kembali ke bibirku hendak mencium, namun aku menahan
dadanya dengan tangan kananku, “eeehh Mas.. berjanjilah dulu Mas”,
bisikku di antara desahan nafasnya yang mulai sedikit memburu. “Oooh
Ines sayang, aku berjanji untuk bertanggung jawab, aahh aku menginginkan
keperawananmu sayang”, ucapnya. Sementara jemari tangannya yang sedang
berada di sela-sela selangkangan pahaku itu meremas gundukan memekku
lagi. “Ba.. baiklah Mas, Ines percaya sama Mas”, bisikku. “Jadi?”
tanyanya. “hh. lakukanlah mass, Ines milik Mas seutuhnya.. hh..”
jawabku. “Benarkah? ooh.. Ines sayanggg.” Secepat kilat bibirku kembali
dikecup dan dikulumnya, digigit lembut, disedot. Hidung kami bersentuhan
lembut. Dengus nafasku terdengar memburu saat dia mengecup dan mengulum
bibirku cukup lama. DIa mempermainkan lidahnya di dalam mulutku, aku
mulai berani membalas cumbuannya dengan menggigit lembut dan mengulum
lidahnya dengan bibirku. Lidah kami bersentuhan, lalu dia mengecup dan
mengulum bibir atas dan bawahku secara bergantian. Terdengar suara
kecapan-kecapan kecil saat bibir kami saling mengecup. “aah Ines sayang,
kamu pintar sekali, kamu pernah punya pacar yaach?” tanyanya curiga.
“Mm Ines belum pernah punya pacar Mas, ini
ciuman Ines yang pertama kok Mas”, sahutku. “Kok ciumanmu pintar sekali,
jangan-jangan Ines sering nonton film porno yaa?” godanya. Aku
tersenyum malu, dan wajahku pun tiba-tiba bersemu merah, aku menundukkan
mukaku, malu. “I…iya Mas, beberapa kali”, sahutku terus terang sambil
tetap menundukkan muka. “Ines sayang, kamu nggak kecewa khan karena aku
benar-benar sangat menginginkan keperawananmu sayang?” tanyanya. “Ines
serahkan apa yang bisa Ines persembahkan buat Mas, Ines ikhlas,
lakukanlah Mas kalau Mas benar-benar menginginkannya”,
sahutku lirih. Jemari tangan kanannya yang masih berada di
selangkanganku mulai bergerak menekan ke gundukan memekku yang masih
perawan, lalu diusap-usap ke atas dan ke bawah dengan gemas. Aku memekik
kecil dan mengeluh lirih, kupejamkan mataku rapat-rapat, sementara
wajahku nampak sedikit berkeringat. Dia meraih kepalaku dalam pelukannya
dengan tangan kiri dan dia mencium rambutku. “Oooh masss”, bisikku
lirih. “Enaak sayang diusap-usap begini”, tanyanya. “hh… iiyyaa mass”,
bisikku polos. Jemarinya kini bukan cuma mengusap tapi mulai meremas
bukit memekku dengan sangat gemas. “sakit Mas aawww” aku memekik kecil
dan pinggulku menggelinjang keras. Kedua pahaku yang tadi menjepit
pergelangan tangan kanannya kurenggangkan. Dia mengangkat wajah dan
daguku kearahnya, sambil merengkuh tubuhku agarlebih merapat ke badannya
lalu kembali dia mengecup dan mencumbu bibirku dengan bernafsu. Puas
mengusap-usap bukit memekku, kini jemari tangan kanannya bergerak
merayap ke atas, mulai dari pangkal paha terus ke atas menelusuri
pinggang sampai ujung jemarinya berada di bagian bawah toketku yang
sebelah kiri. Dia mengelus perlahan di situ lalu mulai mendaki perlahan,
akhirnya jemari tangannya seketika meremas kuat toketku dengan
gemasnya. Seketika itu pula aku melepaskan bibirku dari kuluman
bibirnya, “aawww… Mas
sakitt, jangan keras-keras dong meremasnya”, protesku. Kini secara
bergantian jemari tangannya meremas kedua toketku dengan lebih lembut.
Aku menatapnya dan membiarkan tangannya menjamah dan meremas-remas kedua
toketku.
“Auuggghh..” tiba2 dia menjerit lumayan keras dan meloncat berdiri.
Aku yang tadinya sedang menikmati remasanku pada toketnya jadi ikutan
kaget. “Eeehh kenapa Mas?” “Aahh anu sayang… kontolku sakit nih”,
sahutnya sambil buru-buru membuka celana panjangnya di hadapanku. Aku
tak menyangka dia berbuat demikian hanya memandangnya dengan terbelalak
kaget. Dia membuka sekalian CDku dan “Tooiiing”, kontolnya yang sudah
tegang itu langsung mencuat dan mengacung keluar mengangguk-anggukan
kepalanya naik turun . “aawww… Mas jorok”, aku menjerit kecil sambil
memalingkan mukaku ke samping dan menutup mukaku dengan
tangan. “He… he…” dia terkekeh geli, batang kontolnya sudah kelihatan
tegang berat, urat-urat di permukaan kontolnya sampai menonjol keluar
semua. Batang kontolnya bentuknya montok, berurat, dan besar. Sementara
aku masih menutup muka tanpa bersuara, dia mengocok kontolnya dengan
tangan kanannya, “Uuuaahh…nikmatnya”. “nes sebentar yaa… aku mau cuci
kontolku dulu yaa… bau nih soalnya”, katanya sambil ngibrit ke belakang,
kontolnya yang sedang “ON” tegang itu jadi terpontang-panting sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ke sana ke mari ketika dia berlari. Aku
masih terduduk di atas sofa dan begitu melihatnya keluar berlari tanpa
pakai celana jadi terkejut lagi melihat kontolnya yang sedang tegang
bergerak manggut-manggut naik turun. “aawww…” teriakku kembali sembari
menutup mukaku dengan kedua jemari tanganku. “Iiihh… Ines… takut apa
sih, kok mukanya ditutup begitu”, tanyanya geli. “Itu Mas, kontol Mas”,
sahutku lirih. “Lhoo… katanya sudah sering nonton BF kok masih takut,
kamu kan pasti sudah lihat di film itu kalau kontol cowok itu bentuknya
gini”, sahutnya geli. “Iya…m..Mas, tapi kontol Mas mm besar sekalii”,
sahutku masih sambil menutup muka. “Yaach… ini sih kecil dibanding di
film nggak ada apa-apanya, itu khan film barat, kontol mereka jauh lebih
gueedhee… kalau kontolku kan ukuran orang Indonesia sayang, ayo sini
dong kontolku kamu pegang sayang, ini kan milik kamu juga”, sahutnya
nakal. “Iiih… malu aah Mas, jorok.” “Alaa.. malu-malu sih sayang, aku
yang telanjang saja nggak malu sama kamu, masa kamu yang masih
pakaian lengkap malu, ayo dong sayang kontol Mas dipegang biar kamu bisa
merasakan milik kamu sendiri”, sahutnya sembari meraih kedua tanganku
yang masih menutupi mukaku. pada mulanya aku menolak sambil memalingkan
wajahku ke samping, namun setelah dirayu-rayu akhirnya aku mau juga.
kedua tanganku dibimbingnya ke arah selangkangannya, namun kedua
mataku masih kupejamkan rapat. Jemari kedua tanganku mulai menyentuh
kepala kontolnya yang sedang ngaceng. Mulanya jemari tanganku hendak
kutarik lagi saat menyentuh kontolnya yang ngaceng namun karena dia
memegang kedua tanganku dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang
kontolnya itu, akhirnya aku hanya menurut saja. Pertama kali aku hanya
mau memegang dengan
kedua jemarinya. “Aah… terus sayang pegang erat dengan kedua tanganmu”,
rayunya penuh nafsu. “Iiih… keras sekali Mas”, bisikku sambil tetap
memejamkan mata. “Iya sayang, itu tandanya aku sedang ngaceng sayang,
ayo dong digenggam dengan kedua tanganmu, aahh…” dia mengerang nikmat
saat tiba-tiba saja aku bukannya menggenggam tapi malah meremas kuat.
Aku terpekik kaget, “Iiih sakit mass…” tanyaku. Aku menatapnya gugup.
“Ooouhh jangan dilepas sayang, remas seperti tadi lekas sayang oohh…”
erangnya lirih. Aku yang semula agak gugup, menjadi mengerti lalu jemari
kedua tanganku yang tadi sedikit merenggang kini bergerak dan meremas
kontolnya seperti tadi. Dia melenguh nikmat. Aku kini sudah berani
menatap kontolnya yang kini sedang kuremas, jemari kedua tanganku itu
secara bergantian meremas batang dan kepala kontolnya. Jemari kiri
berada di atas kepala kontolnya sedang jemari yang kanan meremas
kontolnya. .dia hanya bisa melenguh panjang pendek. “.sshh…nes… terusss
sayang, yaahh… ohh… ssshh”, lenguhnya keenakan. Aku memandangnya sambil
tersenyum dan mulai mengusap-usap maju mundur, setelah itu kugenggam dan
kuremas seperti semula tetapi kemudian aku mulai memompa dan mengocok
kontolnya itu maju mundur. “Aakkkhh… ssshh” dia
menggelinjang menahan nikmat. Aku semakin bersemangat melihatnya
merasakan kenikmatan, kedua tanganku bergerak makin cepat maju mundur
mengocok kontolnya. Dia semakin tak terkendali, “nes… aahhgghh… sshh…
awas pejuku mau keluarr” teriaknya keras. aku meloncat berdiri begitu
dia mengatakan kalimat itu, aku melepaskan remasan tanganku dan berdiri
ke sebelahnya, sementara pandangan mataku tetap ke arah kontolnya yang
baru kukocok. “Kamu kok lari sih…” bisiknya lirih disisiku. “Tadi
pejunya mau keluar mass… kok nggak jadi?” tanyaku polos. Rupanya dia gak
mau ngecret karena aku kocok makanya dia bilang pejunya mau keluar.
Dia meraih tubuhku yang berada di sampingnya dan dipeluknya dengan
gemas, aku menggelinjang saat dia merapatkan badannya ke tubuhku
sehingga toketku yang bundar montok menekan dadanya yang bidang. Aku
merangkulkan kedua lenganku ke lehernya, dan tiba-tiba ia pun mengecup
bibirku dengan mesra, kemudian dilumatnya bibirku sampai aku megap-megap
kehabisan napas. Terasa kontolnya yang masih full ngaceng itu menekan
kuat bagian pusarku, karena memang tubuhnya lebih tinggi dariku.
Sementara bibir kami bertautan mesra, jemari
tangannya mulai menggerayangi bagian bawah tubuhku, dua detik kemudian
jemari kedua tangannya telah berada di atas bulatan kedua belah
bokongku. Diremasnya dengan gemas, jemarinya bergerak memutar di
bokongku. Aku merintih dan mengerang kecil dalam cumbuannya. Lalu dia
merapatkan bagian bawah tubuhnya ke depan sehingga mau tak mau kontolnya
yang tetap tegang itu jadi terdesak perutku lalu menghadap ke atas. Aku
tak memberontak dan diam saja. Sementara itu dia mulai
menggesek-gesekkan kontolnya yang tegang itu di perutku. Namun baru juga
10 detik aku melepaskan ciuman dan pelukannya dan tertawa-tawa kecil,
“Kamu apaan sih kok ketawa”, tanyanya heran. “Abisnya… Mas sih, kan Ines
geli digesekin kaya gitu”, sahutku sambil terus tertawa kecil. Dia
segera merengkuh tubuhku kembali ke dalam pelukannya, dan aku tak
menolak saat dia menyuruhku untuk meremas
kontolnya seperti tadi. Segera jemari tangan kananku mengusap dan
mengelus-elus kontolnya dan sesekali kuremas. Dia menggelinjang nikmat.
“aagghh… nes… terus sayang…” bisiknya mesra. Wajah kami saling
berdekatan dan aku memandang wajahnya yang sedang meringis menahan rasa
nikmat. “Enaak ya mass…” bisikku mesra. Jemari tanganku semakin gemas
saja mempermainkan kontolnya bahkan mulai kukocok seperti tadi. Dia
melepaskan kecupan dan pelukanku. “Gerah nih sayang, aku buka baju dulu
yaah sayang”, katanya sambil terus mencopot kancing kemejanya satu
persatu lalu dilemparkan sekenanya ke samping.
Kini dia benar-benar polos dan telanjang bulat di hadapanku. Aku
masih tetap mengocok kontolnya maju mundur. “Sayang… kau suka yaa sama
kontolku”, katanya. Sambil tetap mengocok kontolnya aku menjawab dengan
polos. “suka sih Mas… habis kontol Mas lucu juga, keras banget Mas kayak
kayu”, ujarku tanpa malu-malu lagi. “Lucu apanya sih?” tanyanya. Aku
memandangnya sambil tersenyum “pokoknya lucu saja”, bisikku lirih tanpa
penjelasan. “Gitu yaa… kalau memek kamu seperti apa yaa… aku pengen liat
dong”, katanya. Aku mendelik sambil melepaskan tanganku dari kontolnya.
“Mas jorok ahh…” sahutku malu-malu. “Ayo, aku sudah kepengen ngerasain
nih… aku buka ya celana kamu”, katanya lagi.
Dan dengan cepat dia berjongkok di depanku, kedua tangannya meraih
pinggulku dan didekatkan ke arahnya. Pada mulanya aku agak memberontak
dan menolak tangannya namun begitu aku memandang wajahnya yang tersenyum
padaku akhirnya aku hanya pasrah dan mandah saat jemari kedua tangannya
mulai gerilya mencari ritsluiting celana ketatku yang berwarna putih
itu. Mukanya persis di depan selangkanganku sehingga dia dapat melihat
gundukan bukit memekku dari balik celana ketatku. Dia semakin tak sabar,
dan begitu menemukan tali ritsluitingku segera ditariknya ke bawah
sampai terbuka, kebetulan aku tak memakai sabuk sehingga dengan mudah
dia meloloskan dan memplorotkan celanaku sampai ke bawah. Sementara
pandangannya tak pernah lepas dari selangkanganku, dan kini
terpampanglah di depannya CDku yang berwarna putih bersih itu tampak
sedikit menonjol di tengahnya. Terlihat dari CDku yang cukup tipis itu
ada warna kehitaman, jembutku. Waahh… dia memandang ke atas dan aku
menatapnya sambil tetap tersenyum. “Aku buka ya.. CDnya”, tanyanya. Aku
hanya menganggukan kepala perlahan. Dengan gemetar jemari kedua
tangannya
kembali merayap ke atas menelusuri dari kedua betisku terus ke atas
sampai kedua belah paha, dia mengusap perlahan dan mulai meremas.
“Oooh…Masss” aku merintih kecil. kemudian jemari kedua tangannya merayap
ke belakang kebelahan bokongku yang bulat. Dia meremas gemas disitu.
Ketika jemari tangannya menyentuh tali karet CDku yang bagian atas,
sreeet… secepat kilat ditariknya ke bawah CDku itu dengan gemas dan kini
terpampanglah sudah daerah ‘forbidden’ ku.
Menggembung membentuk seperti sebuah gundukan bukit kecil mulai dari
bawah pusarku sampai ke bawah di antara kedua belah pangkal pahaku,
sementara di bagian tengah gundukan bukit memekku terbelah membentuk
sebuah bibir tebal yang mengarah ke bawah dan masih tertutup rapat
menutupi celah liang memekku. Dan di sekitar situ ada jembut yang cukup
lebat. “Oohh.. nes, indahnya…” Hanya kalimat itu yang sanggup diucapkan
saat itu. Dia mendongak ketika aku sedang membuka baju kaosku, setelah
melemparkan kaos sekenanya kedua tanganku lalu menekuk ke belakang
punggungnya hendak membuka braku dan tesss… bra itupun terlepas jatuh di
mukanya. Selanjutnya aku melepas juga celana dan CDku yang masih
tersangkut di mata kakiku, lalu sambil tetap berdiri di depannya, aku
tersenyum manis kepadanya, walaupun wajahku sedikit memerah karena malu.
Toketku berbentuk bulat
seperti buah apel, besarnya kira-kira sebesar dua kali bola tenis,
warnanya putih bersih hanya pentil kecilnya saja yang tampak berwarna
merah muda kecoklatan. “kamu cantik sekali sayang”,
bisiknya lirih. Aku mengulurkan kedua tanganku kepadanya mengajaknya
berdiri lagi. “Mass… Ines sudah siap, Ines sayang sama Mas, Ines akan
serahkan semuanya seperti yang Mas inginkan”, bisikku mesra. Dia
merangkul tubuhku yang telanjang. Badanku seperti kesetrum saat kulitku
menyentuh kulit nya, kedua toketku yang bulat menekan lembut dadanya
yang bidang. Jemari tangannya tergetar saat mengusap punggungku yang
telanjang, “Aahh.. nes kita ngentot di kamar yuk, aku sudah kepingin
ngentot sayang”, bisiknya tanpa malu-malu lagi. Aku hanya
tersenyum dalam pelukannya. “Terserah Mas saja, mau ngentotnya dimana”, sahutku mesra.
Dengan penuh nafsu dia segera meraih tubuhku dan digendongnya ke
dalam kamar. Direbahkannya tubuhku yang telanjang bulat itu di atas
kasur busa di dalam kamar tengah, tempat tidur itu tak terlalu besar,
untuk 2 orang pun harus berdempetan. Suasana dalam kamar kelihatan gelap
karena semua gorden tertutup agar tak kentara dari luar, walaupun
gorden yang berada dalam kamar ini sama sekali tidak menghadap ke jalan
umum namun menghadap ke kebun di belakang, jadi sebenarnya sangat aman.
Dia segera membuka gorden agar sinar matahari sore dapat masuk, dan
benar saja begitu disibakkan sinar matahari dari arah barat langsung
menerangi seluruh isi kamar. Dia memandangi tubuhku yang telanjang bulat
di ranjang. Segera dia menaiki ranjang, aku memandangnya sambil
tersenyum. Dia merayap ke atas tubuhku yang bugil dan menindihnya,
sepertinya dia sudah tak sabar ingin segera memasuki memekku. “Buka
pahamu sayang, aku ingin mengentotimu sekarang”, bisiknya bernafsu.
“Mass…” aku hanya melenguh pasrah saat dia setengah menindih tubuhku dan
kontolku yang tegang itu mulai menusuk celah memekku, tangannya
tergetar saat membimbing kontolnya mengelus memekku lalu menelusup di
antara kedua bibir memekku. “Sayang, aku masukkan yaah… kalau sakit
bilang sayang.. kamu kan masih perawan.” “Pelan-pelan Mas”, bisikku
pasrah. Lalu dengan jemari tangan kanannya diarahkannya kepala kontolnya
ke memekku. Aku memeluk pinggangnya mesra, sementara dia mencari liang
memekku di antara belahan bukit memekku. Dia mencoba untuk menelusup
celah bibir memekku bagian atas namun setelah ditekan ternyata
jalan buntu. “Agak ke bawah Mas, aahh kurang ke bawah lagi Mas… mm.. yah
tekan di situ Mas… aawww pelan-pelan Mas sakiiit”, aku memekik kecil
dan menggeliat kesakitan. Akhirnya dia berhasil menemukan celah memekku
itu setelah aku menuntunnya, diapun mulai menekan ke bawah, kepala
kontolnya dipaksanya untuk menelusup ke dalam liang memekku yang sempit.
Dia mengecup bibir ku sekilas lalu berkonsentrasi kembali untuk segera
dapat membenamkan kontolnya seluruhnya ke dalam liang memekku. Aku mulai
merintih dan memekik-mekik kecil ketika kepala kontolnya yang besar
mulai berhasil menerobos liang memekku yang sangat-sangat sempit sekali.
“Tahan sayang… aku masukkan lagi, sempit sekali sayang aahh”, erangnya
mulai merasakan kenikmatan dan kurasakan kepala kontolnya berhasil masuk
dan terjepit ketat sekali dalam liang memekku. “aawwww…. masss sakiit…”
teriakku memelas, tubuhku menggeliat kesakitan. Dia berusaha
menentramkan aku sambil mengecup mesra bibirku dan dilumat dengan
perlahan. Lalu, “tahan sayang, baru kepalanya yang masuk sayang, aku
tekan lagi yaah”, bisiknya.
Tiba2 dia mencabut kembali kontolnya yang baru masuk kepalanya saja
itu dengan perlahan. “Ah… sayang, aku masukin nanti saja deh, liang
memekmu masih sangat sempit dan kering sayang.” “memekku sakit Mas”,
erangku lirih. “Yahh… aku tahu sayang kamu kan masih perawan, kita
bercumbu dulu sayang, aku kepingin melihat Ines nyampe”, bisiknya
bernafsu. Segera dia merebahkan badannya di atas tubuhku dan dipeluknya
dengan kasih sayang, “Ines… hh.. bagaimana perasaanmu sayang”, bisiknya
mesra. Aku memandangnya dan tertawa renyah. “mm… Ines bahagia sekali
bersama Mas seperti ini, rasanya nikmat ya Mas berpelukan sambil
telanjang kaya gini”, ujarku polos. “Iyaa sayang, anggaplah aku suamimu
saat ini sayang”,
bisiknya nakal. “Iih.. Mas, Mas cumbui isterimu dong, beri istrimu
kenik…mmbhh”, belum sempat aku selesai ngomong, dia sudah melumat
bibirku. Aku membalas ciumannya dan melumat bibirnya dengan mesra.Dia
menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku dan aku langsung mengulumnya
hangat, begitu sebaliknya. Jemari tangan kirinya merayap ke bawah
menelusuri sambil mengusap tubuhku mulai pundak terus ke bawah sampai ke
pinggul dan diremasnya dengan gemas. Ketika tangannya bergerak
kebelakang ke bulatan bokongku, dia mulai menggoyangkan seluruh badannya
menggesek tubuhku yang bugil terutama pada bagian selangkangan dimana
kontolnya yang sedang tegang-tegangnya menekan gundukan bukit memekku.
Dia menggerakkan pinggulnya secara memutar sambil menggesek-gesekkan
batang
kontolnya di permukaan bibir memekku sambil sesekali ditekan-tekan. Aku
ikut-ikutan menggelinjang kegelian, beberapa kali kepala kontolnya yang
tegang salah sasaran memasuki belahan bibir memekku seolah akan menembus
liang memekku lagi. Akua hanya merintih kesakitan dan memekik kecil,
“Aawwww… Mas saakiit”, erangku. “Aahh.. nes… memekmu empuk sekali
sayang, ssshh”, dia melenguh keenakan.
Beberapa menit kemudian setelah kami puas bercumbu bibir, dia
menggeser tubuhnya kebawah sampai mukanya tepat berada di atas kedua
bulatan toketku, kini ganti perutnya yang menekan memekku. Jemari kedua
tangannya secara bersamaan mulai menggerayangi gunung “Fujiyama”
milikku, dia mulai menggesekkan ujung-ujung jemarinya mulai dari bawah
toketku di atas perut terus menuju gumpalan kedua toketku yang kenyal
dan montok. Aku merintih dan menggelinjang
antara geli dan nikmat. “Mass, geli”, erangku lirih. Beberapa saat dia
mempermainkan kedua pentilku yang kemerahan dengan ujung jemarinya. Aku
menggelinjang lagi, dipuntirnya sedikit pentilku dengan lembut. ” Mas…”
aku semakin mendesah tak karuan. Secara bersamaan akhirnya dia
meremas-remas gemas kedua toketku dengan sepenuh nafsu. “Aawww… Mas”,
aku mengerang dan kedua tanganku memegangi kain sprei dengan kuat. Dia
semakin menggila tak puas meremas lalu mulutnya mulai menjilati kedua
toketku secara bergantian. Lidahnya
menjilati seluruh permukaan toketku itu sampai basah, mulai dari toket
yang kiri lalu berpindah ke toket yang kanan, digigit-gigitnya pentilku
secara bergantian sambil diremas-remas dengan gemas sampai aku
berteriak-teriak kesakitan. Lima menit kemudian lidahnya bukan saja
menjilati kini mulutnya mulai beraksi menghisap kedua pentilku
sekuat-kuatnya. Dia tak peduli aku menjerit dan menggeliat
kesana-kemari, sesekali kedua jemari tanganku memegang dan meremasi
rambutnya, sementara kedua tangannya tetap mencengkeram dan meremasi
kedua
toketku bergantian sambil menghisap-hisap pentilnya. Bibir dan lidahnya
dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap kedua toketku. Di
dalam mulutnya pentilku dipilin dengan lidahnya sambil terus dihisap.
Aku hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat
ketika giginya menggigiti pentilku dengan gemas, hingga tak heran kalau
di beberapa tempat di kedua bulatan toketku itu nampak berwarna
kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitannya. Cukup
lama dia mengemut toketku, setelah itu bibir dan lidahnya kini merayap
menurun ke bawah. Ketika lidahnya bermain di atas pusarku, aku mulai
mengerang-erang kecil keenakan, dia mengecup dan membasahi seluruh perutku.
Ketika dia bergeser ke bawah lagi dengan cepat lidah dan bibirnya
telah berada di atas gundukan bukit memekku. “Buka pahamu Nes..”
teriaknya tak sabar, posisi pahaku yang kurang membuka itu membuatnya
kurang leluasa untuk mencumbu memekku itu. “Oooh… masss”, aku hanya
merintih lirih. Dia membetulkan posisinya di atas selangkangan ku. Aku
membuka ke dua belah pahaku lebar-lebar, aku sudah sangat terangsang
sekali. Kedua tanganku masih tetap memegangi kain sprei, aku kelihatan
tegang sekali. “Sayang… jangan tegang begitu dong sayang”, katanya
mesra. “Lampiaskan saja perasaanmu, jangan takut kalau Ines merasa
nikmat,
teriak saja sayang biar puass….” katanya selanjutnya. Sambil memejamkan
mata aku berkata lirih. “Iya mass eenaak sih mass”, kataku polos. Dia
memandangi memekku yang sudah ditumbuhi jembut namun kulit dimemekku dan
sekitarnya itu tidak tampak keriput sedikitpun, masih kelihatan halus
dan kencang. Bibir memekku kelihatan gemuk dan padat berwarna putih
sedikit kecoklatan, sedangkan celah sempit yang berada di antara kedua
bibir memekku itu tertutup rapat. “MAs… ngapain sih kok ngelamun, bau
yaa Mas?” tanyaku sambil tersenyum. Wajahku sedikit kusut dan
berkeringat.”abisnya memekmu lucu sih, bau lagi”, balasnya
nakal. “Iiihh… jahat”, Belum habis berkata begitu aku memegang kepalanya
dan mengucek-ucek rambutnya. Dia tertawa geli. Selanjutnya aku menekan
kepalanya ke bawah, sontak mukanya terutama hidung dan bibirnya langsung
nyosor menekan memekku, hidungnya menyelip di antara kedua bibir
memekku. Bibirnya mengecup bagian bawah bibir memekku dengan bernafsu,
sementara jemari kedua tangannya merayap ke balik pahaku dan meremas
bokongku yang bundar dengan gemas. Dia mulai mencumbui bibir memekku
yang tebal itu secara bergantian seperti kalau dia mencium bibirku. Puas
mengecup dan mengulum bibir bagian atas, dia berpindah untuk mengecup
dan mengulum bibir memekku bagian bawah. Karena ulahnya aku
sampai menjerit-jerit karena nikmatnya, tubuhku menggeliat hebat dan
terkadang meregang kencang, beberapa kali kedua pahaku sampai menjepit
kepalanya yang lagi asyik masyuk bercumbu dengan bibir memekku. Dia
memegangi kedua belah bokongku yang sudah berkeringat agar tidak
bergerak terlalu banyak, sepertinya dia tak rela melepaskan pagutan
bibirnya pada bibir memekku. aku mengerang-erang dan tak jarang memekik
cukup kuat saking nikmatnya. Kedua tanganku meremasi rambutnya sampai
kacau, sambil menggoyang-goyangkan pinggulku. Kadang pantat kunaikkan
sambil mengejan nikmat atau kadang kugoyangkan memutar seirama dengan
jilatan lidahnya pada seluruh permukaan memekku. aku berteriak makin
keras, dan terkadang seperti orang menangis saking tak kuatnya menahan
kenikmatan yang diciptakannya pada memekku. Tubuhku menggeliat hebat,
kepalaku bergerak ke kiri dan ke kanan dengan cepat, sambil mengerang
tak karuan. Dia semakin bersemangat
melihat tingkahku, mulutnya semakin buas, dengan nafas setengah memburu
disibakkannya bibir memekku dengan jemari tangan kanannya, terlihat
daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurnya bercampur dengan
cairan lendirku, agak sebelah bawah terlihat celah liang memekku yang
amat sangat kecil dan berwarna kemerahan pula. Dia mencoba untuk membuka
bibir memekku agak lebar, namun aku memekik kecil karena sakit. “aawww
mass.. sakiit”, pekikku kesakitan. “maaf sayang, sakit yaa…” bisiknya
khawatir. Dia mengusap dengan lembut bibir memekku agar sakitnya hilang,
sebentar kemudian lalu disibakkan kembali pelan-pelan bibir memekku,
celah merahnya kembali terlihat, agak ke atas dari liang memekku yang
sempit itu ada tonjolan daging kecil sebesar kacang hijau yang juga
berwarna kemerahan, inilah itil, bagian paling sensitif dari memek
wanita. Lalu secepat kilat dengan rakus lidahnya dijulurkan sekuatnya
keluar dan mulai menyentil-nyentil daging itilku. Aku memekik sangat
keras sambil
menyentak-nyentakkan kedua kakiku ke bawah. Aku mengejang hebat,
pinggulku bergerak liar dan kaku, sehingga jilatannya pada itilku jadi
luput. Dengan gemas dia memegang kuat-kuat kedua belah pahaku lalu
kembali menempelkan bibir dan hidungnya di atas celah kedua bibir
memekku, dia menjulurkan lidahnya keluar sepanjang mungkin lalu
ditelusupkannya lidahnya menembus jepitan bibir memekku dan kembali
menyentil nikmat itilku dan, aku memekik tertahan dan tubuhku kembali
mengejan sambil menghentak-hentakkan kedua kakiku, pantat ku angkat ke
atas sehingga lidahnya memasuki celah bibir memekku lebih dalam dan
menyentil-nyentil itilku. Begitu singkat karena tak sampai 1 menit aku
terisak menangis dan ada semburan lemah dari dalam liang memekku berupa
cairan hangat agak kental banyak sekali. Dia masih menyentil itilku
beberapa saat sampai tubuhku terkulai lemah dan akhirnya pantatku pun
jatuh kembali ke kasur. Aku melenguh panjang pendek meresapi kenikmatan
yang baru kurasakan, sementara dia
masih menyedot sisa-sisa lendir yang keluar ketika aku nyampe. Seluruh
selangkanganku tampak basah penuh air liur bercampur lendir yang kental.
Dia menjilati seluruh permukaan memekku sampai agak kering, “Sayaang…
puas kan…” bisiknya lembut namun aku sama sekali tak menjawab, mataku
terpejam rapat namun mulutku tersenyum bahagia. “Giliranku sayang, aku
mau masuk nih… tahan sakitnya sayang”, bisiknya lagi tanpa menunggu
jawabannya.
Dia segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuhku yang telanjang berkeringat.
Toketku penuh lukisan hasil karyanya. Dengan agak kasar dia menarik
kakiku ke atas dan ditumpangkannya kedua pahaku pada pangkal pahanya
sehingga kini selangkanganku menjadi terbuka lebar. Dia menarik bokongku
ke arahnya sehingga kontolnya langsung menempel di atas memekku yang
masih basah. Dia mengusap-usapkan kepala kontolnya pada kedua belah
bibir memekku dan lalu beberapa saat kemudian dengan nakal kontolnya
ditepuk-tepukkan dengan gemas ke memekku. Aku menggeliat manja dan
tertawa kecil, “Mas… iiih.. gelii.. aah”, jeritku manja. “Sayaang,
kontolku mau masuk nih… tahan yaa sakitnya”, bisiknya nakalpenuh nafsu.
“Iiihh… jangan kasar ya mass… pelan-pelan saja masukinnya, Ines
takutsakiit”, sahutku polos penuh kepasrahan. Sedikit disibakkannya
bibir memekku dengan jemari kirinya, lalu diarahkannya kepala kontolnya
yang besar ke liang memekku yang sempit. Diamulai menekan dan aku pun
meringis, dia tekan lagi… akhirnya perlahan-lahan mili demi mili liang
memekku itu membesar dan mulai menerima kehadiran kepala kontolnya. Aku
menggigit bibir. Dia melepaskan jemari tangannya dari bibir memekku dan
plekk… bibir memekku langsung menjepit nikmat kepala kontolnya. “Tahan
sayang…” bisiknya bernafsu. Aku hanya mengangguk pelan, mata lalu
kupejamkan rapat-rapat dan kedua tanganku kembali memegangi kain sprei.
Dia Agak
membungkukkan badannya ke depan agar pantatnya bisa lebih leluasa untuk
menekan ke bawah. Dia memajukan pinggulnya dan akhirnya kepala kontolnya
mulai tenggelam di dalam liang memekku. Dia kembali menekan, dan aku
mulai menjerit kesakitan. Dia tak peduli, mili demi mili kontolnya
secara pasti terus melesak ke dalam liang memekku dan tiba-tiba setelah
masuk sekitar 4 centi seperti ada selaput lunak yang menghalangi kepala
kontolnya untuk terus masuk, dia terus menekan dan aku melengking keras
sekali lalu menangis terisak-isak. selaput daraku robek. Dia terus
menekan kontolnya, ngotot terus memaksa memasuki liang memekku yang luar
biasa sempit itu. Dia memegang pinggulku, dan ditariknya kearahnya
kontolnya masuk makin ke dalam, Aku terus menangis terisak-isak
kesakitan, sementara dia sendiri malah merem melek keenakan. Dan dia
menghentak keras ke bawah, dengan cepat kontolnya mendesak masuk liang
memekku. dia mengerang nikmat. Dihentakkan lagi pantatnya ke bawah dan
akhirnya kontolnya secara sempurna telah tenggelam sampai kandas
terjepit di antara bibir memekku. dia berteriak keras saking nikmatnya,
matanya mendelik menahan jepitan ketat memekku yang luar biasa.
Sementara aku hanya memekik kecil lalu memandangnya sayu.
“Mass… Ines sudah nggak perawan lagi sekarang”, bisikku lirih. “Ines
sayang, Mas sekarang juga nggak perjaka lagi”, balasnya mesra. Kami
sama-sama tersenyum. Direbahkannya badannya di atas tubuhku yang
telanjang, aku memeluknya penuh kasih sayang, toketku kembali menekan
dadanya. Memekku menjepit meremas kuat kontolnya yang sudah amblas
semuanya. Kami saling berpandangan mesra,dia mengusap mesra wajahku yang
masih menahan sakit menerima tusukan kontolnya. “Mas… bagaimana
rasanya”, bisikku mulai mesra kembali, walaupun sesekali kadang aku
menggigit bibir menahan sakit. “Enaak sayang.. dan nikmaat… oouhh aku
nggak
bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sayang… selangit pokoknya”,
bisiknya. “MAs, bagaimana kalau Ines sampai hamil?” bisikku sambil tetap
tersenyum.”Oke…nanti setelah ngentot kita cari obat di apotik, obat
anti hamil”, bisiknya gemas. “Iihh… nakal…” sahutku sambil kembali
mencubit pipinya. “Biariin…” “Maasss…” aku agak berteriak. “Apaan sih…”
tanyanya kaget. Lalu sambil agak bersemu merah dipipi aku berkata lirih.
“dienjot dong…” bisikku hampir tak terdengar. “Iiih Ines kebanyakan
nonton film porno, kan memeknya masih sakiit”, jawabnya. “Pokoknya,
dienjot dong Mas…” sahutku manja. Dia mencium bibirku dengan bernafsu,
dan akupun membalas dengan tak kalah bernafsu. Kami saling berpagutan
lama sekali, lalu sambil tetap begitu dia mulai menggoyang pinggul naik
turun. kontolnya mulai menggesek liang memekku dengan kasar, pinggulnya
menghunjam-hunjam dengan cepat mengeluar masukkan kontolnya yang tegang.
Aku memeluk punggungnya dengan kuat, ujung jemari tanganku menekan
punggungnya dengan keras. Kukuku terasa menembus kulitnya. Tapi dia tak
peduli, dia sedang
mengentoti dan menikmati tubuhku. Aku merintih dan memekik kesakitan
dalam cumbuannya. Beberapa kali aku sempat menggigit bibirnya, namun
itupun dia tak peduli. Dia hanya merasakan betapa liang memekku yang
hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat kontolnya. Ketika ditarik
keluar terasa daging memekku seolah mencengkeram kuat kontolnya,
sehingga terasa ikut keluar. Aku melepaskan ciumannya dan mencubit
pinggangnya. “Awww… aduuh Mass… sakit … . ngilu Mas” aku berteriak
kesakitan. “Maaf sayang… aku mainnya kasar yaah? aku nggak tahan lagi
sayang aahhgghghh”, bisiknya. “pejuku mau keluar, desahnya sambil
menyemprotkan
peju yang banyak di liang memekku. Kami pun berpelukan puas atas
kejadian tersebut. Dan tanpa terasa kami ketiduran sambil berpelukan
telanjang bulat karena kecapaian dalam permainan tadi.
Kami tidur dua jam lamanya lalu kami berdua mandi bersama. Di dalam
kamar mandi kami saling membersihkan dan berciuman. Dia minta aku
jongkok. Dia mengajariku untuk menjilati serta mengulum kontolnya yang
sudah tegak berdiri. Kontolnya kukulum sambil mengocoknya pelan-pelan
naik turun. “Enak banget yang, kamu cepet ya belajarnya. Terus diemut
yang”, erangnya. Kemudian giliran dia, aku disuruhnya berdiri sambil
kaki satunya ditumpangkan di bibir bathtub agar siap mendapat serangan
oralnya. Dia menyerang selangkanganku dengan lidah yang menari-nari
kesana kemari pada itilku sehingga aku mengerang sambil memegang
kepalanya untuk menenggelamkannya lebih dalam ke memekku. Dia tahu apa
yang kumau, lalu dijulurkannya lidahnya lebih dalam ke memekku sambil
mengorek-korek itilku dengan jari manisnya. Semakin hebat rangsangan
yang aku rasakan sampai aku nyampe, dengan derasnya lendirku keluar
tanpa bisa dibendung. Dia menjilati dan menelan semua lendirku itu tanpa
merasa jijik. “Mas, nikmat banget deh, Ines sampe lemes”, kataku. “Ya
udah kamu istirahat aja, aku mau cari makanan dulu ya”, katanya sambil
berpakaian dan meninggalkan ku sendiri di rumah itu. Aku
berbaring di ranjang, ngantuk sampe ketiduran lagi.
DIa membangunkanku dan mengajakku makan nasi padang yang sudah
dibelinya. “Nes, malem ini kita tidur disini aja ya, aku masih pengen
ngerasain peretnya memekmu lagi. Kamu mau kan
kita ngentot lagi”, katanya sambil membelai pipiku. “Ines nurut aja apa
yang mas mau, Ines kan udah punyanya mas”, jawabku pasrah. Sehabis makan
langsung Aku dibawanya lagi keranjang, dan direbahkan. Kami langsung
berpagutan lagi, aku sangat bernapsu meladeni ciumannya. Dia mencium
bibirku, kemudian lidahnya menjalar menuju ke toketku dan dikulumnya
pentilku. Terus menuju keperut dan dia menjilati pusarku hingga aku
menggelepar menerima rangsangan itu yang terasa nikmat. “Mas enak
sekali..” nafasku terengah2. Lumatannya terus dilanjutkannya pada
itilku. Itilku dijilatinya, dikulum2, sehingga aku semakin terangsang
hebat. Pantatku kuangkat supaya lebih dekat lagi kemulutnya. Diapun
merespons hal itu dengan memainkan lidahnya ke dalam memekku yang sudah
dibukanya sedikit dengan jari. Ketikla Responsku sudah hampir mencapai
puncak, dia menghentikannya. Dia ganti dengan posisi 69.Dia telentang
dan minta aku telungkup diatas tubuhnya tapi kepalaku ke arah kontolnya.
Dia minta aku untuk kembali menjilati kepala kontolnya lalu mengulum
kontolnya keluar masuk mulutku dari atas. Setelah aku lancar
melakukannya, dia menjilati memek dan itilku lagi dari bawah. Selang
beberapa lama kami melakukan pemanasan maka dia berinisiatif untuk
menancapkan kontolnya di memekku.
Aku ditelentangkannya, pahaku dikangkangkannya, pantatku diganjal
dengan bantal. “buat apa mas, kok diganjel bantal segala”, tanyaku.
“biar masuknya dalem banget yang, nanti kamu juga ngerasa enaknya”,
jawabnya sambil menelungkup diatasku. Kontolnya digesek2kan di memekku
yang sudah banyak lendirnya lagi karena itilku dijilati barusan. “Ayo
Mas cepat, aku sudah tidak tahan lagi” pintaku dengan bernafsu. “Wah
kamu sudah napsu ya Nes, aku suka kalo kita ngentot setelah kamu napsu
banget sehingga gak sakit ketika kontolku masuk ke memek kamu”,
jawabnya. Dengan pelan tapi pasti dia masukan kontolnya ke memekku.
“Pelan2 ya mas, biar
gak sakit”, lenguhku sambil merasakan kontolnya yang besar menerobos
memekku yang masih sempit. Dia terus menekan2 kontolnya dengan pelan
sehingga akhirnya masuk semua. Lalu dia tarik pelan-pelan juga dan
dimasukkan lagi sampai mendalam, terasa kontolnya nancep dalem sekali.
“Mas enjot yang cepat, Mas, Ines udah mau nyampe ach.. Uch.. Enak Mas,
lebih enak katimbang dijilat mas tadi”, lenguhku. “Aku juga mau keluar,
yang”, jawabnya.Dengan hitungan detik kami berdua nyampe bersama sambil
merapatkan pelukan, terasa memekku berkedutan
meremes2 kontolnya. Lemas dan capai kami berbaring sebentar untuk memulihkan tenaga.
Sudah satu jam kami beristirahat, lalu dia minta aku mengemut
kontolnya lagi. “Aku belum puas yang, mau lagi, boleh kan?” yanyanya.
“Boleh mas, Ines juga pengen ngerasain lagi nyampe seperti tadi”,
jawabku sambil mulai menjilati kepala kontolnya yang langsung ngaceng
dengan kerasnya. Kemudian kepalaku mulai mengangguk2 mengeluar masukkan
kontolnya dimulutku. Dia mengerang kenikmatan, “Enak banget Nes
emutanmu. Tadi memekmu juga ngempot kontolku ketika kamu nyampe. Nikmat
banget deh malam ini, boleh diulang ya sayang kapan2″. Aku diam tidak
menjawab karena ada kontolnya dalam mulutku. “NEs, aku udah mau ngecret
nih, aku masukkin lagi ya ke memek kamu”, katanya sambil minta aku
nungging. “MAu ngapain mas, kok Ines disuru nungging segala”, jawabku
tidak mengerti. “udah kamu nungging aja, mas mau ngentotin kamu dari
belakang”, jawabnya. Sambil nungging aku bertanya lagi, “Mau dimasukkin
di pantat ya mas, aku gak mau ah”. “Ya gak lah yang, ngapain di pantat,
di memek kamu udah nikmat banget kok”, jawabnya. dengan pelan
diumasukkannya kontolnya ke memekku, ditekan2nya sampe amblas semua,
terasa kontolnya masuk dalem sekali, seperti tadi ketika pantatku
diganjel bantal. Kontolnya mulai dikeluarmasukkan dengan irama lembut.
Tanpa
sadar aku mengikuti iramanya dengan menggoyangkan pantatku. Tangan kirinya menjalar ke
toketku dan diremas-remas kecil, sambil mulai memompa dengan semakin
cepat. Aku mulai merasakan nikmatnya dientot, sakit sudah tidak terasa
lagi. “Mas, Ines udah ngerasa enaknya dientot, terus yang cepet
ngenjotnya mas, rasanya Ines udah mau nyampe lagi”, erangku. Dia tidak
menjawab, enjotan kontolnya makin lama makin cepet dan keras, nikmat
banget deh rasanya. Akhirnya dengan satu enjotan yang keras dia
melenguh, “Nes aku ngecret, aah”, erangnya. “Mas, Ines nyampe juga mas,
ssh”, bersamaan dengan ngecretnya pejunya aku juga nyampe.Kembali aku
terkapar kelelahan.
Ketika aku terbangun, hari udah terang. Aku nggeletak telanjang bulat
di ranjang dengan Satu kaki terbujur lurus dan yang sebelah lagi
menekuk setengah terbuka mengangkang. Dia yang sudah bangun lebih dulu,
menaiki ranjang dan menjatuhkan dadanya diantara kedua belah paha ku.
Lalu dengan gemas, diciumnya pusarku. ” Mass, geli!” aku menggeliat
manja. Dia tersenyum sambil terus saja menciumi pusarku berulang2 hingga
aku menggelinjang beberapa kali. Dengan menggunakan ke2 siku dan
lututnya ia merangkak sehingga wajahnya terbenam diantara ke2 toketku.
Lidahnya sedikut menjulur ketika dia mengecup pentilku sebelah kiri,
kemudian pindah ke pentil kanan. Diulangnya beberapa kali, kemudian dia
berhenti melakukan jilatannya. Tangan kirinya bergerak keatas sambil
meremes dengan lembut toketku.Remasannya membuat pentilku makin
mengeras, dengan cepat dikecupnya pentilku dan dikulum2nyasambil
mengusap punggungku dengan tangan kanannya. “Kamu cantik sekali,”
katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku hanya tersenyum, aku
senang mendengar pujiannya. Kurangkul lehernya, kemudian kucium
bibirnya. Lidahnya yang nyelip masuk mulutku kuhisap2. Aku segera meraba
kontolnya lagi, kugenggam dan kugesek2kan ke memekku yang mulai
berlendir. Lendir memekku melumuri kepala kontolnya, kontolnya menjadi
makin keras. Urat2 berwarna hijau di kulit batang kontolnya makin
membengkak. Dia menekan pinggulnya sehingga kepala kontolnya nyelip di
bibir memekku. Terasa bibir memekku menjepit kontolnya yang besar itu.
Dia menciumi leherku, dadanya direndahkan sehingga menekan toketku.
“Oh…mas”, lenguhku ketika ia menciumi telingaku. “Kakimu dibelitkan di
pinggangku Nes”, pintanya sambil terus mencium
bibirku. Tangan kirinya terus meremas toketku sedang tangan satunya
mengelus pahaku yang sudah kulingkarkan di pinggangnya. Lalu dia
mendorong kontolnya lebih dalam. Sesak rasanya memekku. Pelan2 dia
menarik sedikit kontolnya, kemudian didorongnya. Hal ini dia lakukan
beberapa kali sehingga lendir memekku makin banyak keluarnya, mengolesi
kepala kontolnya. Sambil menghembuskan napas, dia menekan lagi kontolnya
masuk lebih dalam. Dia menahan gerakan pinggulnya ketika melihat aku
meringis. “Sakit yang”, tanyanya. “Tahan sedikit ya”. Dia
kembali menarik kontolnya hingga tinggal kepalanya yang terselip di
bibir luar memekku, lalu didorongnya kembali pelan2. Dia terus mengamati
wajahku, aku setengah memejamkan mata tapi sudah tidak merasa sakit.
“NEs, nanti dorong pinggul kamu keatas ya”, katanya sambil menarik
kembali kontolnya. Dia mencium bibirku dengan lahap dan mendorong
kontolnya masuk kontolnya. Pentilku diremesnya dengan jempol dan
telunjuknya. Aku tersentak karena enjotan kontolnya dan secara reflex
aku mendorong pinggulku ke atas sehingga kontolnya nancap
lebih dalam. Aku menghisap lidahnya yang dijulurkan masuk ke mulutku.
Sementara itu dia terus menekan kontolnya masuk lebih dalam lagi. Dia
menahan gerakan pinggulnya, rambutku dibelai2nya dan terus mengecup
bibirku. Kontolnya kembali ditariknya keluar lagi dan dibenamkan lagi
pelan2, begitu dilakukannya beberapa kali sehingga seluruh kontolnya
sudah nancap di memekku. Aku merangkul lehernya dan kakiku makin erat
membelit pinggangnya.”Akh mas”, lenguhku ketika terasa kontolnya sudah
masuk semua, terasa memekku berdenyut meremes2 kontolnya. “Masih sakit
Nes”, tanyanya. “Enak mas”, jawabku sambil mencakari punggungnya, terasa
biji pelernya memukul2 pantatku. Dia mulai mengenjotkan kontolnya
keluar masuk memekku. Entah bagaimana dia mengenjotkan kontolnya, itilku
tergesek kontolnya
ketika dia mengenjotkan kontolnya masuk. Aku menjadi terengah2 karena
nikmatnya. Dia juga mendesah setiap kali mendorong kontolnya masuk
semua, “Nes, memekmu peret sekali, terasa lagi empotannya, enak banget
sayang ngentot dengan kamu”.Tangannya menyusup ke punggungku sambil
tersu mengenjotkan kontolnya. Terasa bibir memekku
ikut terbenam setiap kali kontolnya dienjot masuk. “Mas”, erangku.
Terdengar bunyi “plak” setiap kali dia menghunjamkan kontolnya. Bunyi
itu berasal dari beradunya pangkal pahanya dengan pangkal pahaku karena
aku mengangkat pinggulku setiap dia mengenjot kontolnya masuk. “Nes, aku
udah mau ngecret”, erangnya lagi.Dia menghunjamkan kontolnya dalam2 di
memekku dan
terasalah pejunya nyembur2 di dalam memekku. Bersamaan dengan itu, “Mas,
Ines nyampe juga mas”, aku mengejang karena ikutan nyampe.Nikmat banget
bersama dia, walaupun perawanku hilang aku tidak nyesel karena ternyata dientot itu mendatangkan kenikmatan luar biasa.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Mona Gadis Imut Pemuas Nafsuku
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» mendambakan gadis lugu
» Sesuatu Untuk Kekasih Anda
» Gadis Ini Tidak Sikat Gigi Selama 10 Tahun
» Gadis Ini Sengaja Ingin Digantung

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Untuk 17 Tahun Ke Atas :: Underground :: Cerita Panas-
Navigasi: