Forum ini adalah tempat berkumpulnya para Pecinta Bokep dan sejenisnya, jika kalian mempunyai foto, video, gambar atau sejenisnya yg lain-lain Share aja disini
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Gara-gara mencukur bulu kemaluan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
rouet
Bayi
Bayi


Jumlah posting : 8
Reputation : 0
Join date : 21.05.11

PostSubyek: Gara-gara mencukur bulu kemaluan   Sun May 22, 2011 4:51 am

Untuk membentuk agar bulu kemaluanku tumbuh dengan rapih, suatu hari
timbul niat isengku untuk mencukur total. Kusiapkan alat-alat dahulu
sebelum kumulai aksinya. Mulai dari gunting, kaca cermin, lampu duduk,
dan koran bekas untuk alas agar bekas cukuran tidak berantakan
kemana-mana. Kupasang cermin seukuran buku tulis tepat di depan
kemaluanku untuk melihat bagian bawah yang tidak terlihat secara
langsung. Tidak lupa pula kunyalakan lampu duduk di antara
selangkanganku. Kumulai pelan-pelan, kugerakkan pisau cukur dari atas ke
bawah.
Baru
mulai aku menggoreskan pisau cukur itu, aku dengar suara langkah masuk
ke kamarku, segera aku lihat bayangan di kaca buffet, tidak jelas
benar, tapi aku bisa menebaknya bahwa dia adalah si Eni, kemenakan dari ibu kost.
Aku bingung juga, mau
membereskan perangkat ini terlalu repot, tidak sempat. Memang aku
melakukan kesalahan fatal, aku lupa mengunci pintu depan ketika kumulai
kegiatan ini. Akhirnya dalam hitungan detik muncul juga wajah si Eni
ke dalam kamarku. Dalam waktu yang singkat itu, aku sempat meraih
celana dalamku untuk menutupi kemaluanku. Sambil meringis berbasa-basi
sekenanya.
“He.. he.. ada apa En..?” sapaku gelagapan.
“Eh, Mas Adi lagi ngapain..?” kata Eni yang nampaknya juga sedang menyembunyikan kegugupannya.
Si Eni memang akrab dengan saya, dia sering minta bimbingan dalam hal pelajaran di sekolahnya. Khususnya pada mata
pelajaran matematika yang memang menjadi kegemaranku. Eni sendiri
masih sekolah di SMU. Berkata jorok memang sering kami saling lakukan
tetapi hanya sebatas bicara saja. Apalagi Eni juga menanggapinya,
dengan perkataan yang tidak kalah joroknya. Tapi hanya sebatas itulah.
Kembali pada adegan tadi, dimana aku tengah kehabisan akal menanggapi
kehadirannya yang memergokiku sedang mencukur bulu kemaluan. Akhirnya
kubuka juga kekakuan ini.
“Enggak apa-apa En, biasa.. kegiatan rutin.”
“Apaan sih..?”
“Eni sudah berusia 17 tahun belum..?”
“Emangnya kenapa kalau udah..?” kata Eni masih berdiri dengan canggung sambil terus menatapku dengan serius.
“Gini En, aku khan
lagi nyukur ini nih, aku minta tolong kamu bantuin aku. Soalnya di
bagian ini susah nyukur sendiri..” kataku sambil kuulurkan pisau cukur
padanya.
“Mas Adi, ih..!” tapi ia terima juga pisau cukurnya, sambil duduk di dekatku.
Aku angkat celana yang tadi hanya kututupkan di atas kemaluanku.
“Eni tutup dulu pintunya yach Mas..?”
Dia menutup pintu depan dan pintu kamar. Sebenarnya masih ada pintu
belakang yang langsung menuju ke dapur rumah induk. Namun pada jam
segini aku yakin bahwa tidak ada orang
di dalam. Selesai Eni menutup pintu, dia agak kaget melihat kemaluanku
terbuka, sambil menutup mulutnya ia meminta agar aku menutupnya.
“Tutup itunya dong..!” katanya dengan manja.
Aku katupkan kedua pahaku, batang kemaluanku aku selipkan di antaranya,
sehingga tidak terlihat dari atas, sedangkan bulunya terlihat dengan
jelas.
“Nah begini khan nggak terlihat..” kataku, dan Eni nampaknya setuju juga.
Eni ragu-ragu untuk melakukannya, namun segera aku yakinkan.
“Nggak apa-apa En, kamu khan sudah 17 tahun, berarti sudah bukan
anak-anak lagi, lagian khan cuman bulu, kamu juga punya khan, udah nggak
apa-apa. Nanti kalau aku sakit, aku bilang deh..”
“Bukannya apa-apa, aku geli hi.. hi..” sambil cekikikan.
Dengan super hati-hati dia gerakkan juga pisau cukur mulai menghabisi
bulu-bulu kemaluanku. Karena terlalu hati-hatinya maka ia harus
melakukannya dengan berulang-ulang untuk satu bagian saja.
Sentuhan-sentuhan kecil tangannya di pahaku mulai menimbulkan getaran
yang tidak bisa kusembunyikan. Dan ini membuat kemaluanku semakin
tegang, tidak hanya itu, hal ini juga menyebabkan siksaan tersendiri.
Dengan posisi tegang dan tercepit di antara pahaku menjadikan kemaluanku
semakin pegal. Sampai akhirnya tidak bisa kutahan, kukendorkan jepitan
kedua pahaku, sehingga dengan cepat meluncurlah sebuah tongkat panjang
dan keras mengacung ke atas menyentuh tangan Eni yang masih sibuk
mempermainkan pisau cukurnya.
Begitu tersentuh tangannya oleh benda kenyal panas kemaluanku, dia kaget dan hampir berteriak.
“Oh, apa ini Mas..? Kok dilepas..?” katanya gugup ketika menyadari bahwa
batang kemaluanku lepas dari jepitan dan mengarah ke atas.
“Iya En. Habis nggak tahan. Nggak apa-apa deh, dihadapan cewek harus kelihatan lebih gagah gitu..”
“Mas Adi sengaja ya..?”
“Suer.., ini cuma normal.”
Eni masih memperhatikan kemaluanku yang sudah besar dan kencang
dengan wajah yang sulit digambarkan. Antara takut dan ingin tahu. Lalu
dia raih kain yang ada di dekatku untuk menutupinya.
“Kenapa ditutup En..?”
“Aku takut, abis punya Mas Adi besar banget.”"Emangnya Eni belum pernah melihat kemaluan laki-laki..?” tanya saya.
Eni diam saja, tapi digelengkan kepalanya dengan lemah.
“Ayo deh diteruskan,” bisikku.
Kali ini Eni menjadi super hati-hati mencukurnya. Mungkin takut
tersentuh kemaluanku. Sedangkan aku sangat ingin tersentuh olehnya. Tapi
aku khawatir dia semakin takut saja. Akhirnya kubiarkan saja dia
menyelesaikan tugasnya dengan caranya sendiri.
Akhirnya harapanku sebagian terkabul juga. Ketika Eni mulai mencukur
bulu bagian samping kemaluanku, mau tidak mau dia harus menyingkirkan
kemaluanku.
“Maaf ya Mas..!” dengan tangan kirinya ia mendorong kemaluanku yang
masih tertutup kain bagian atasnya ke arah kiri, sehingga bagian
kanannya agak leluasa. Untuk lebih membuka areal ini, aku rebahkan
tubuhku dan kubentangkan sebelah kakiku.
Eni dengan sabar memainkan pisau cukurnya membersihkan bulu-bulu yang
menempel di sekitar kemaluanku, nafasnya mulai memburu, dan kutebak
saja bahwa dia juga sedang horny. Walaupun masih dengan ragu-ragu dia
tetap memegang kemaluanku. Didorong ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke
bawah. Aku hanya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tanpa kusadari
kain penutup kepala kemaluanku sudah tersingkap, dan ini nampaknya
dibiarkan saja oleh Eni, yang sekali-kali melirik juga ke arah kepala
kemaluanku yang mulus dan besar itu.
Lama-kalamaan, Eni semakin terbiasa dengan benda menakjubkan itu.
Dengan berani, akhirnya dia singkapkan kain yang menutup sebagian
kemaluanku itu. Dengan terbuka begitu, maka dengan lebih leluasa dia
dapat menyantap pemandangan yang jarang terjadi ini. Aku diam saja,
karena aku sangat menyukainya serta bangga mendapat kesempatkan untuk
mempertontonkan batang kemaluanku yang lumayan besar.
“Udah bersih Mas..”
Kulihat kamaluanku sudah pelontos, gundul. Wah, jelek juga tanpa bulu, pikirku.
“Di bawah bijinya udah belum En..?” aku pura-pura tidak tahu bahwa di daerah itu jarang ada bulu.
Lalu dengan hati-hati ia sigkapkan kedua bijiku ke atas. Uh, rasanya enak sekali.
“Udah bersih juga Mas..” ia mengulanginya.
Katanya datar saja. Menandakan bahwa hatinya sedang ada kecamuk. Aku
tarik lengannya, dan dengan sengaja kusenggol payudaranya, dan kukecup
keningnya.
“Terima kasih ya En..!”
Tanpa kusadari, sejak dia memberanikan diri mencukur bulu kemaluanku
tadi, buah dadanya yang berukuran sedang terus menempel pada dengkulku.
Begitu kukecup keningnya, dia diam saja, mematung sambil menundukkan
mukanya. Lalu kuangkat dagunya dan kucium bibirnya, kupeluk
sepuas-puasnya. Keremas paudaranya dan nafasnya makin memburu. Aku raih
kemaluannya tapi dia diam saja, kuselipnkan satu jarinya dari sela-sela
celana dalamnya. Wah, ternyata sudah basah bukan main. Namun Eni
segera terkejut, dan melepaskan diri dariku. Disun pipiku, dan dia
segera lari ke rumah induk lewat pintu belakang.
Aku benar-benar puas, kupandangi tampang kemaluan gundulku yang masih tegak.
“Suatu saat nanti engkau akan mendapat bagiannya..” kataku dalam hati.
Sejak peristiwa itu, kami memang tidak pernah bertemu dua mata dalam
suasana yang sepi. Selalu saja ada orang lain yang hilir mudik di
kamarku. Sampai akhirnya liburan datang dan kami semua masing-masing
pulang kampung untuk beberapa waktu. Liburan sekolah sudah selesai, Eni
sudah datang lagi setelah berlibur ke rumah orang tuanya di Tabanan,
Bali. Begitu juga aku yang datang sebelum masa kuliahku dimulai.
Waktu itu hujan deras. Eni masih berada di kamarku (suasananya sepi
karena tidak ada orang sama sekali, termasuk di rumah induk) untuk minta
bimbingan atas pelajarannya. Begitu selesai, Eni menyandarkan tubuhnya
ke dadaku sambil berkata.
“Mas, itunya sudah tumbuh lagi belum..? Hi.. hi..” sambilnya ketawa cekikikan.
“Oh, itu..? Lihat aja sendiri.” sambil kupelorotkan celana pendekku sampai lepas, dan kemaluanku yang masih lunglai menggantung.
“Mas Adi ih, ngawur..” katanya.
Tapi walaupun demikian, ia santap juga pemandangan itu sambil
menyibakkan sebagian T-Shirt-ku yang menutupi daerah itu. Bulu-bulu yang
sudah rapih memenuhi lagi sekitar kemaluanku, segera terlihat dengan
jelas.
“Nah, begitu khan lebih oke..” katanya.
“Aku kapok En, nggak mau nyukur plontos lagi.”
“Kenapa Mas..?”
“Waktu mau numbuh. Bulunya tajam-tajam dan itu menusuk batangku.”
“Habis Mas Adi sukanya macem-macem sih..!” sambil terus memandang
kemaluanku yang masih tergantung lunglai, “Mas, kok itunya lemes sih..?”
“Iya En, sebentar juga gede, asal diusap-usap biar seneng.”
“Ah Mas Adi sih senengnya enak terus.”
Walaupun berkata seperti itu, mau juga Eni mulai memegang kemaluanku dan
digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Membuat batang kemaluanku
semakin besar, keras dan mengacung ke atas. Eni makin menyandarkan
kepalanya ke dadaku. Dan langsung saja saya peluk dia, sedemikian rupa
hingga payudaranya tesentuh tangan kiriku. Rupanya Eni tidak pakai BH,
sehingga kekenyalan payudaranya langsung terasa olehku. Kupermainkan
payudaranya, aku pencet, menjadikan Eni terdiam seribu bahasa tetapi
nafasnya semakin cepat. Demikian pula Eni dengan hati-hati memainkan
kemaluanku, masih terus dibolak-balik, ke kanan dan ke kiri.
Aku cium bibir Eni, dan dia menanggapinya dengan tidak kalah
agresifnya. Barangkali inilah suatu yang ditungu-tunggu. Aku lepas
blouse-nya, dan payudaranya yang masih kencang dan mulus dengan
putingnya yang kecil berwarna coklat muda segera terpampang dengan
jelas. Karena tidak tahan, aku langsung menciuminya. Hal ini menjadikan
Eni semakin menggeliatkan tubuhnya, tandanya dia merasa nikmat. Aku
ikuti dia ketika dia mambaringkan tubuhnya di tempat tidur. Aku
hisap-hisap puting payudaranya, sementara rok dan celananya
kupelorotkan. Eni setuju saja, hal ini ditunjukkan dengan diangkatnya
pantat untuk memudahkanku melepaskan pakaian yang tersisa.
Begitu pakaian bagian bawah terlepas, segera tersembul bukit mungil
di antara selangkangannya, rambutnya masih jarang, nyaris tidak
kelihatan. Sekilas hanya terlihat lipatan kecil di bagian bawahnya.
Pemandangan ini sungguh membuat nafsuku semakin memuncak. Begitu kuraba
bagian itu, terasa lembut. Makin dalam lagi barulah terasa bahwa dia
sudah banyak berair. Eni masih merem-melek, tangannya tidak mau lepas
dari kemaluanku. Begitu pula ketika kulepas pakaianku. Tangan Eni tidak
mau lepas dari alat vitalku yang semakin keras saja.
Begitu aku sudah dalam keadaan bugil, aku kembali mempermainkan
kemaluannya, ketika jari tengahku mau memasuki vaginanya yang sudah
banjir itu. Pinggulnya digoyangkannya tanda mengelak, aku hampir putus
asa.
Tetapi kudengar suara manjanya, “Jangan pakai tangan Mas. Pakai itu saja.” sambil menarik-narik alat vitalku ke arah vaginanya.
Aku segera mengambil posisi. Tangan lembutnya membimbingnya untuk
memasuki arah yang tepat. Kugosok-gosokkan sebentar di bibir vaginanya
yang berlendir itu. Rasanya nikmat sekali. Setelah kurasa tepat berada
di ambang lubangnya, aku dorong sedikit, agar bisa memasukinya. Tapi
nampaknya tidak mau masuk. Aku coba sekali lagi, tidak mau masuk juga.
“Kamu masih perawan En..?” akhirnya aku tanya dia.
Diantara jelita dan wajahnya yang sudah seperti tidak sadar itu, aku lihat kepalanya menggeleng dan itu adalah suatu jawaban.
Usaha menembus lubang kenikmatan itu aku tunda dulu. Operasiku
berpindah dengan memagut-magut seluruh tubuhnya. Eni semakin
terengah-engah menerima perlakuanku. Erangan-erangan yang terkesan liar
semakin membuatku bernafsu. Aku kecup putingnya, perutnya, dan
pahanya. Ketika aku mengecup pahanya, sepintas aku lihat vaginanya
menganga, semburat warna merah tua yang licin sungguh menarik
perhatianku. Jilatanku makin dekat ke arah vaginanya. Begitu lidahku
menyentuh bibir kemaluannya, Eni berteriak kelojotan sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku semakin bersemangat menjilatinya.
Setelah kurasa jenuh, dan kehabisan variasi menjilati vaginanya.
Kembali kuarahkan kemaluanku ke arah barang yang paling dilindungi
wanita ini. Kembali tangan Eni membimbing kemaluanku. Setelah tepat di
depan gerbang kenikmatan, aku dorong sedikit.
“Bless..”
Kepala kemaluanku bisa masuk sedikit, Eni meringis, tapi terus menekan
bokongku. Maksudnya, jelas agar aku masuk lebih banyak lagi. Aku dorong
lagi, tetapi lubangya terlalu sempit. Walaupun hanya kepala saja yang
masuk, tetapi aku berusaha memaju-mundurkan, agar gesekan yang nekmat
itu terasa. Setelah beberapa kali aku memaju-mundurkan, sekali lagi aku
dorong lebih dalam lagi. Berhasil..! Kini kemaluanku sudah sepertiga
berada di dalamnya. Aku berusaha sabar, aku gerakkan maju mundur lagi.
Setelah beberapa kali, aku mendorong lagi. Begitulah kulakukan
berulang-ulang sampai semua kemaluanku tertelan dalam remasan vaginanya.
Kudiamkan untuk sesaat di dalam, kurasakan denyutan-denyutan yang
sangat nikmat yang membuat seluruh tubuhku mengejang. Kugerakkan lagi
bokongku dengan arah maju-mundur. Tanpa kusangka, Eni menjerit sambil
mengejang.
“Terus Mas.. terus Mas.. aku sampaaii.. ouh.. ouh..” jeritan itu lumayan keras.
Aku segera tutup mulutnya dengan bibirku. Bersamaan dengan itu,
kemaluanku terasa diremas-remas. Ujung kemaluanku seakan menyentuh
dinding yang membuatku merasa geli bukan main. Akhirnya aku tidak tahan
juga untuk mengeluarkan spermaku ke dalam liang kewanitaannya. Beberapa
semprotan agaknya semakin menjadikan Eni semakin liar dan semakin
meregangkan tubuhnya. Kami orgasme bersama-sama, dan itu sangat
meletihkan. Dan aku tidak ingin cepat-cepat melupakan fantasi yang hebat
itu. Kami tertidur untuk beberapa waktu.
Begitu aku bangun, rupanya Eni sudah tidak ada. Yang ada hanyalah
secarik kertas menutupi kemaluanku dengan tulisan, “YOU ARE THE GREAT”.
Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara rutin dua minggu
sekali, paling lama sebulan sekali. Namun tidak melakukan di rumah
tetapi kubawa ke hotel di luar kota secara berganti-ganti yang
kemungkinan kecil untuk diketahui oleh orang yang kami kenal. Sampai
akhirnya, kami berpisah. Aku lulus dan diterima kerja di luar kota. Eni
kuliah di kota yang jauh sekali dari tempatku berada. Kalau ia membaca
tulisan ini, maka ia akan bersyukur karena namanya sudah aku samarkan.
Sekedar untuk mengingatkan saja ketika kami begituan, kemaluannya
kujuluki TEMBEM. Dan ia menyebut kemaluanku dengan julukan TOLE
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
loginku
Bayi
Bayi


Jumlah posting : 1
Reputation : 0
Join date : 10.07.11

PostSubyek: Re: Gara-gara mencukur bulu kemaluan   Sun Jul 10, 2011 5:58 pm

forum sampah Twisted Evil
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Gara-gara mencukur bulu kemaluan
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Gara-gara Radiasi
» 5 Pemilik Rambut Tubuh Terpanjang Sedunia
» Gangguan Pada Alat Kelamin Pria yang Bisa Dicegah
» Cukur Kaki Bos Virgin, Bayar 400 Ribu Pounds
» 6 Cara Menebalkan Alis

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Untuk 17 Tahun Ke Atas :: Underground :: Cerita Panas-
Navigasi: