Forum ini adalah tempat berkumpulnya para Pecinta Bokep dan sejenisnya, jika kalian mempunyai foto, video, gambar atau sejenisnya yg lain-lain Share aja disini
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Aku Dan Sahabatku

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
rouet
Bayi
Bayi


Jumlah posting : 8
Reputation : 0
Join date : 21.05.11

PostSubyek: Aku Dan Sahabatku   Sun May 22, 2011 4:50 am

Nama saya Kartika, usia 25 tahun dengan tinggi 168 cm, berat 53 kg,
asli orang Bandung, kulit putih bersih. Ukuran payudara saya yang 34C
termasuk lumayan besar untuk gadis seusia saya. Pekerjaan saya adalah
sebagai manager operasional di sebuah perusahaan terkenal di daerah
saya. Saya ingin mengeluarkan gelisah hati yang saya pendam selama ini,
mudah-mudahan saya bisa berbagi dengan pembaca sekalian.Saya di
kantor mempunyai sahabat yang namanya Levana, sering saya panggil Ana.
Orangya supel, dan mudah bergaul, tingginya 172 cm/53 kg, dengan kulit
putih mulus, maklum orang Menado asli, 34B ukuran payudaranya. Saya
mempunyai kelainan ini sejak masih gadis pada saat tinggal bersama
kakak saya, Mbak Erni namanya.Kapan-kapan saya ceritakan sejarah
lesbian saya, tapi saya juga suka cowok lho sama seperti gadis-gadis
lain. Hanya saja hampir tujuh puluh persen saya menyenangi cewek, saya
tidak mengerti mengapa saya begini, mungkin suatu saat saya bisa sembuh
total ya?! Saya sering jalan bersama Ana kalau ada undangan karena
saya belum ada pasangan, banyak sih cowok yang naksir, cuma saya masih
enggan saja untuk berpacaran. Saya ingat betul awalnya yaitu pada saat
bulan Agustus 2004, sehabis pulang kantor.***** “Ka, sini sebentar” panggil Ana pada saya sambil mendekatkan Mercynya.“Ada apa Na?” tanya saya heran pada Ana.“Boleh nggak minta tolong?”“Tolong apa?”“Itu lho, rumah saya khan sedang direnovasi..”“Terus?”“Mmh, boleh numpang nginep nggak di rumahmu?” tanya Ana ragu-ragu.“Alaa, gitu saja nanya, boleh dong, sekarang?”“Iya, boleh khan?” tanya Ana sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri.“Udah, nggak usah banyak omong, ayo jalan” perintah saya sambil tersenyum.“Okey, trim’s ya”Maka
setelah Ana mengambil baju sekedarnya, kami berdua meluncur ke rumah
saya yang memang agak jauh dari kantor. Rumah saya mempunyai empat
kamar, satu kamar untuk tamu dan kamar saya di tengah, saya tinggal
sendiri karena orang tua saya tinggal di Surabaya. “Na, ini kamarmu ya” kata saya sambil menunjukkan sebuah kamar padanya di ujung depan.“Trim’s ya” jawabnya sambil masuk melihat-lihat kamar.“Kutinggal dulu”“Ya..” jawabnya sambil lalu.Saya
kemudian menuju kamar untuk mandi dan berganti baju, soalnya gerah
sejak tadi. Sedang asyik-asyiknya saya memilih BH, tiba-tiba Ana masuk
ke kamar. “Eh.. Maaf ka, lagi pake baju ya?” katanya kaget
melihatku masih memakai celana dalam berwarna merah dan belum
mengenakan BH sama sekali.“Oh Ana, masuk Na, nggak apa-apa kok”
jawab saya sambil tersenyum melihatnya yang masih memandangi payudara
saya yang termasuk besar dan montok.“Wah, badanmu seksi juga ya?” ujarnya.“Tentu saja, habis saya rajin senam sich”“Oh ya, ada film bagus nich, nonton yuk” ajak Ana sambil menggandeng saya untuk menonton TV di ruang tengah.“Bentar Na, kuganti baju dulu ya” jawabku sambil memakai BH dan kaos longgar serta celana pendek.“Kutunggu ya..”“Ya”. Kemudian Levana sudah duduk di depan TV sambil makan camilan, sedang saya masih sibuk membereskan baju yang berserakan.Malam
itu Ana mengenakan daster kuning hingga kelihatan kulit lengannya yang
putih mulus, kadang-kadang karena duduk kami yang mepet, Ana dengan
tak sengaja menyenggol payudara saya hingga perasaan saya jadi
bertambah aneh. Mungkin karena acara TV yang membosankan, saya jadi tak
tertarik lagi, saya lebih tertarik memperhatikan Ana saja. Ternyata
Ana yang memakai daster itu, sudah tidak memakai BH lagi hingga
tonjolan payudaranya kelihatan mencuat ke atas, mungkin karena kami
sama-sama perempuan, jadi Ana tidak malu-malu lagi, bahkan kadang-kadang
kakinya dinaikkan ke meja hingga bawahan dasternya jadi tersingkap dan
memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna putih.Perasaan
saya jadi lain hingga saya memutuskan untuk ke kamar dan berganti baju
dengan daster tanpa memakai BH dan celana dalam juga, supaya bertambah
nyaman kalau berdekatan dengan Levana. Sungguh Levana itu gadis yang
cantik seperti artis mandarin. Saya kembali ke ruang tamu dan membawa
kaset DVD untuk saya tonton bersama Ana, siapa tahu saja Levana
tertarik dengan filmnya dan ingin mmh.. “Na, ganti ama DVD ya?”“Film apaan tuch?”“Ini, film romantis dari Jepang, pengin liat nggak?”“Ya, bolehlah, abis acaranya nggak ada yang menarik sich”“Okey, duduk dekat sini” pinta saya pada Ana untuk duduk di sofa agar nyaman menonton film itu.Sebetulnya
sich, itu film triple X dari jepang mengenai seorang gadis yang
mencintai guru wanitanya lalu mereka bersetubuh dan bercinta dengan
gaya yang romantis dengan berbagai macam gaya. Volume TV dan AC saya
perbesar hingga Ana mendekat dan mepet dengan saya. Untung rumah sudah
sepi karena pembantu sudah pulang semua dan lagi rumah saya besar, jadi
volume suara TV yang besar itu tidak kedengaran lagi dari luar. “Film BF ya?” tanya Ana tanpa menoleh pada saya.“Tapi bagus lho, untuk pelajaran sex”“Bagus,
sich bagus, tapi saya jadi pengin nich” gumam Ana tak jelas karena
napasnya yang makin berat dan diselingi suara orang bercinta dari TV
yang makin kencang.“Gimana kalau kupegang payudaramu” usulku.“Hush,
ngaco kamu Tika, kita ini sama-sama cewek tau” jawabnya sambil
monyong, namun itu justru menambah gairah saya semakin tinggi.“Daripada kamu megang sendiri, hayoo” jawab saya tak mau kalah sambil meraba payudaranya.“Jangan,
Tika.. Jangan..” teriaknya keras karena kaget payudaranya saya pegang.
Namun teriakannya tak membuat saya jera, bahkan telinganya yang
sensitif saya cium dengan lembut.“Kurang ajar kamu, sst..” tolaknya lemah dengan mendesis.“Mmh..”Pergumulan
saya dengan Ana berlangsung seru, hingga beberapa menit Levana masih
memberontak, tetapi karena gairahnya sudah naik dan ditambah lagi
dengan ciuman dan remasan saya pada daerah sensitifnya, akhirnya Ana
menyerah juga. Bahkan dengan sigap membalas mencium bibir saya dengan
ganas sambil meraba vagina saya yang sudah mulai basah sejak tadi. “Sst.. Mmh.. Tunggu..” potong saya menghentikan ciuman dan serangannya Ana.“Hahh, ada apa Ka?”“Buka dastermu..” pinta saya untuknya agar membuka daster, sementara saya juga telah membuka dasterku sendiri hingga bugil.“Wah,
susumu besar juga ya?” kata Levana kagum melihat payudara saya yang
sudah tegak, sambil juga melepaskan dasternya, bahkan celana dalamnya
pun ikut dilepaskan juga hingga kami menjadi sama-sama bugil.Dan
kami pun kembali saling berciuman di sofa tanpa mempedulikan film
jepang itu. Saya mengambil inisiatif untuk memulai mencium payudaranya. “Sst.. Sst..”“Mmh.. gantian..” rintih Ana karena tidak dapat menahan ciuman dan jilatan lidah saya pada payudaranya.Maka
saya pun berganti posisi dengan Ana yang menjilat payudara saya dengan
semangat hingga vagina saya juga ikut dibelai, bahkan jari-jarinya
yang lentik keluar masuk ke dalam lubang vagina saya dengan cepat
hingga saya mengalami orgasme yang pertama. “Mmh.. Enak..
Na, cepetan.. Sst..” rintih saya karena tak tahan lagi dengan permainan
Ana yang begitu hebat, bahkan Ana sekarang menjilat vagina saya dengan
liar hingga beberapa menit, saya semakin mendorong vagina saya ke arah
mulutnya yang sedang menghisap bagian dalam.“Sstss.. pinggirnya.. ssts.. Ya.. yang i.. tu..” rintih saya terpatah-patah.Tiba-tiba Levana menghentikan permainannya.. “Ada apa Na?”“Kita coba yang seperti di film, mau khan?” usulnya.“Boleh saja..” jawab saya senang karena memang senang dengan gaya enam sembilan.Gaya
enam sembilan itu maksudnya saya yang berada di posisi atas menghadap
Levana yang berada di posisi bawah dengan saling menjilat vagina
masing-masing, bahkan saking enaknya hingga kepala saya terjepit oleh
Levana yang rupanya juga telah mengalami orgasme yang pertama. Kami
melakukan pergumulan itu di sofa hingga dua jam dan rupanya Levana pun
puas atas permainan itu. “Hahh, lega rasanya..”“Gimana, enak nggak?”“Enak juga ya”“Mau lagi nggak?”“Mau dong kalau caranya gitu” jawab Ana manja sambil mencium bibir saya gemas.Malam
itu saya dan Levana menghabiskan permainan yang seru itu di kamar,
bahkan Ana tak henti-hentinya meremas payudara saya dengan gemas,
kadang-kadang saya puaskan Levana dengan alat kelamin pria plastik,
tentu saja alatnya yang bisa bergetar hingga itu menambah nikmat
percintaan saya dengan Ana. Beberapa ronde kami lalui hingga pagi, juga
di kamar mandi.*****
Keesokannya, seperti biasa saya sudah bersiap ke kantor dengan Levana. “Ayo Na, udah siap belum?”“Udah boss, ayo” gandeng Ana mesra sambil mencium bibir saya lembut.“Hush, nanti dilihat orang lho”“Iya ya..”Maka
sejak itu, saya dan Levana sering bercinta di rumahnya atau rumah
saya, bahkan pernah beberapa kali kami bercinta di dalam mobil. Pada
saat hari libur, Levana mengajak saya dan beberapa temannya ikut
berdarmawisata ke pulau Bali dan Lombok. Salah satu di antaranya bernama
Fifiani yang orang Malang. “Tika, kamu ikut tour besok nggak?” tanya Levana.“Tentu dong, yang ke Bali dan Lombok khan?” jawabku.“Iya dong, eh.. kenalin nich, teman saya” ujar Levana memperkenalkan temannya.“Fifiani” katanya memperkenalkan diri.“Kartika Sari” jawab saya sambil menjabat tangannya yang kuning langsat itu.“Ayo Na, sampai besok ya” jawab Levana menggandeng Fifiani.Hari
yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, saya dengan beberapa teman kantor
jadi berwisata ke pulau Bali dan Lombok, juga ada Fifiani dan Levana.
Dari obrolan kami, saya ketahui bahwa Fifiani itu umurnya baru 23
tahun, 172 cm/53 cm, dengan payudara 34C, orangnya cukup ramah dan
sopan. Levana pernah bercerita pada saya bahwa Fifiani adalah seorang
lesbian sejati, sudah pernah beberapa kali pacaran, namun kandas di
jalan hingga hatinya hancur lebur. “Ana, sini bentar Na” panggil saya pada Ana.“Ada apa Tik”“Tukeran duduk ya, Fifiani di sini dan tas ini di tempatmu, gimana?” usulku.“Enak saja, kapan lagi kesempatan gini datang”“Please dong, khan kamu udah lama kenal ama Fifiani”“Iya dech, cuman aku boleh liat dong di sebelah..” canda Ana sambil mencolek payudara saya dengan gemas.Akhirnya
dalam bis itu, saya yang mulanya duduk di belakang dengan tas besar
entah siapa yang punya, dapat kesempatan duduk dengan Fifiani yang
cantik. Levana tak ketinggalan duduk di sebelah dengan tas besar yang
sudah saya pindahkan. Fifiani dalam perjalanan itu memakai rok jins
hitam dengan kaos merah mudanya, sungguh serasi dengan bentuk tubuhnya
yang proporsional.Rupanya Fifiani atau yang biasa saya panggil
dengan Fifi senang curhat dengan saya, bahkan beberapa kali matanya
mengarah pada payudara dan bawah rok jins biru saya yang agak naik ke
atas, mungkin celana dalam saya yang berwarna putih polos kelihatan,
tapi saya cuek saja. Bahkan saya sengaja beberapa kali menyingkap rok
saya hingga paha saya yang putih kelihatan dengan jelas hingga Fifi
salah tingkah memperhatikan rok saya.Malam itu kami sudah
melewati kota Probolinggo, saya lihat teman-teman sudah pada tidur
karena kelelahan, sementara Levana memperhatikan saya sambil
mengedipkan matanya beberapa kali. Di bis wisata itu yang duduk di
belakang cuma saya, Levana, seorang teman lain dan beberapa barang
bawaan yang menumpuk, sementara yang lain duduk di depan, tentu saja
ada yang berpasangan.Sementara itu Fifi rupanya sudah tertidur
pulas dengan kepalanya bersandar pada bahu kanan saya hingga perasaan
saya jadi tak enak karena napasnya yang harum dan lembut tercium oleh
saya, di samping itu posisi duduknya yang sungguh membuat dada saya
berdebar-debar karena kakinya menopang pada paha saya. Dengan perlahan
saya menyelimutinya hingga kami berdua tertutup oleh selimut hingga
cuma tinggal kepala saja yang kelihatan. Tangan kanan Fifi saya pegang
dan saya di tempatkan payudara saya. tiba-tiba Fifi membuka matanya dan
menatap saya tajam. “Eh.. Eh.. Fi.. Belum tidur ya?” tanya saya tergagap-gagap karena kaget melihatnya bangun tiba-tiba.“Iya
Mbak, belum ngantuk nich” jawabnya tersenyum ramah dan tidak
melepaskan tangannya dari payudara saya, padahal saya sudah horny.“Jangan panggil Mbak dong, panggil Tika saja ya”“Iya dech, Tika udah punya pacar belum?” tanyanya.“Belum, emangnya kenapa?”“Masak, cewek secantik kamu belum punya pacar!”“Emang belum, kamu sendiri?”“Udah pernah sich, cuma sering putus, lebih suka sahabatan ama cewek”“Oh gitu ya..”“Ka, boleh nggak Fifi peluk?” pintanya.“Boleh
saja, terserah Fifi dech” gumam saya pelan karena Fifi dengan pelan
meremas payudara saya dengan gemas, bahkan sudah masuk dalam BH saya
dan meremasnya dengan lembut.“Sstss.. Fi..” desisku.“Gimana Ka?” tanya Fifi yang berusaha membuka BH saya.“Enak
Fi.. Sstss.. Saya boleh..” belum sempat Fifi menjawab, tangan saya
sudah masuk ke dalam roknya dan membelai vaginanya yang masih memakai
celana dalam.“Sst.. Ka.. Ayo dong..” ajak Fifi menuntun tangan saya untuk masuk lebih dalam dan menyentuh vaginanya.Akhirnya
saya dan Fifi saling meremas payudara dan menyentuh vagina hingga Fifi
duluan orgasme karena tak tahan dengan jari-jari saya yang keluar
masuk vaginanya dengan cepat. Levana yang dari tadi memperhatikan saya,
juga ikut-ikutan merogoh payudaranya sendiri. Belum sempat saya
orgasme, bis itu sampai Denpasar, dan kami memesan kamar masing-masing
untuk esok paginya kami lanjutkan dengan pesiar keliling pulau Bali. “Gimana nich Fi, saya khan belum..”“Tenang saja Ka, gimana kalau kita tidur berdua?” jawab Fifi santai karena tahu bahwa saya belum puas.“Iya dech”“Saya boleh ikut nggak, boleh ya..” rengek Levana tiba-tiba mendekati kami.“Boleh saja, gimana Fi, Ana boleh ikut nggak!?” tanya saya pada Fifi.“Okey, pasti tambah asyik ya” jawabnya sambil mengedipkan mata pada saya.Jadilah
saya memesan kamar bertiga dan setelah kami diberi pengarahan dari
pemandu wisata agar bangun jam 08.00, maka saya langsung masuk kamar.
Setibanya di kamar dan menaruh tas, saya peluk Fifi dan menghimpitnya
ke tembok hingga payudara saya yang montok menempel ketat pada
payudaranya. “Udah nggak sabar nich yee..” goda Ana sambil memeluk saya juga dari belakang dan langsung mencium leher saya dengan ganas.“Fi.. Kamu..”“Udah ka, ayo kita terusin yang tadi” jawab Fifi sambil melumat bibir saya dengan ganas.“Mmh..”Fifi
yang mencium saya dengan ganas itu juga tak kalah gesitnya mencoba
kembali membuka BH saya yang akhirnya terlepas juga ke bawah, tangannya
dengan terampil kembali meremas-remas payudara saya, di samping itu
Ana berusaha melepas rok jins dan celana dalam saya hingga saya yang
pertama-tama bugil duluan. Entah siapa yang memulai duluan, tahu-tahu
saya sudah berada di tempat tidur dengan payudara saya yang dijilati
Fifi dengan lincah, bahkan Ana pun juga sudah bugil dan sekarang sedang
menjilati vagina saya dengan lahap.“Sst.. Uuh.. Mmh..” rintih
saya keras karena tak tahan diperlakukan oleh dua orang wanita cantik
yang menjilati bagian sensitif saya.Beberapa menit kemudian saya
pun tak tahan dan mengalami orgasme yang pertama. Fifi juga minta ganti
posisi di bawah untuk kami kerjai yang saya bagi tugas dengan Ana,
saya bagian menjilat vaginanya dan Ana bagian payudara dan bibirnya.
Beberapa menit permainan itu kami lanjutkan dengan cara saling berganti
posisi. “Ka.. Sstss.. Geli.. Ahh.. Ssts”“Ssts.. Mmh.. Jilat yang itu.. Ya..” rintih Fifi yang sedang berjongkok karena vaginanya dijilat oleh Ana.“Sstss..
Go.. Yang.. Na.. Sstss..” desis saya meminta Ana yang vaginanya sedang
saya gesek-gesekkan dengan vagina saya untuk menggoyang pinggulnya
lebih keras.Permainan demi permainan kami lewati hingga akhirnya
saya meminta Fifi memasang penis plastik yang bisa bergetar itu pada
vaginanya. Bentuknya seperti celana dalam yang di tengahnya ada penis
plastik. “Sstss.. Pelan.. Fi.. Argh..” jerit saya karena Fifi memasukkan penis buatan itu terlalu cepat pada vagina saya.“Mmh.. Gimana Ka, enak..?”“Ssts..
Ya, ayo..” perintah saya setelah Fifi memasukkan penis plastik itu dan
mendorongnya keluar masuk hingga saya merasa nikmat dan menjepit penis
plastik itu dengan keras hingga dinding vagina saya berdenyut-denyut.“Sstt.. Ayo.. Fi.. Lebih cepat lagi..” pintaku.“Sstss..
Mmh.. Sstss.. Argkk..” jerit saya melengking karena cepatnya Fifi
memasukkan penis plastik itu hingga saya orgasme berulang-ulang yang
ditambah lagi rangsangan pada payudara saya yang dijilat dan dikulum
oleh Levana sambil tangannya tak henti-hentinya juga meremas payudara
Fifi. Vagina saya mengeluarkan lendir berwarna putih, sungguh banyak
sekali.“Lega rasanya, nikmat juga pake penis buatan..”“Enak nggak rasanya Ka?” tanya Levana pada saya dengan mimik heran.“Lho, kamu belum pernah toh An?” tanyaku.“Belum tuch, biasanya sich cuma ama cewek saja”“Nikmat
kok rasanya, saya sering pake kalau lagi nggak ada pasangan” jawab
Fifi sambil membersihkan penis plastik itu untuk kami gunakan lagi.“Gimana
An, kamu coba dech, sini biar kucobain buat kamu..” bujukku pada
Levana yang kelihatan masih ingin mencoba penis buatan ini selain gaya
enam sembilan favorit Levana dan saya.Malam itu kami bertiga
menguras habis energi untuk bercinta hingga ke kamar mandi, bahkan
dengan senangnya saya bisa memandikan Fifi yang paling muda di antara
kami bertiga. “Pelan-pelan ya masukinnya” pinta Levana cemas.“Tenang
saja, nggak sakit kok” kata saya meyakinkan Levana yang melihat saya
sudah memasang kan celana dalam berpenis itu di kemaluan saya.Permukaan
penis plastik itu ada bintik-bintiknya yang tidak beraturan dan saya
juga tidak begitu mengerti apa manfaatnya, mungkin saja untuk menambah
rasa nikmat jika bersentuhan dengan dinding vagina.“Sst.. Mmh.. Sstss.. Aduh..” jerit Ana pelan karena penis itu terpeleset keluar bibir vaginanya.Akhirnya
seluruh penis plastik itu masuk ke dalam vagina Ana yang masih sempit
itu, mungkin Levana masih perawan karena beberapa saat kemudian sedikit
keluar darah. Memang selama saya bersahabat dengan Levana, Ana jarang
bergaul dengan teman pria, kebanyakan teman wanita seperti saya dan
yang lainnya. Sedangkan Fifi pergaulannya luas termasuk dengan pria
hingga vagina Fifi sudah agak melebar dibandingkan dengan vagina saya
dan Levana. “Na, kamu masih perawan ya?” tanya saya serius pada Levana.“Eh.. Iya.. Berarti kamu yang pertama melakukannya, Sayang” jawabnya mesra sambil mencium saya dengan lembut.“Mmh..”Saya
berusaha maju mundur mengikuti aksi seperti yang di film BF, para pria
memajumundurkan penisnya ke dalam vagina si wanita. Sambil memasukkan
penis buatan, saya meremas-remas payudara Ana. “Sstss.. Ter.. Us.. Sstss..”“Sst.. Fi.. Ayo..” ajak Ana sambil mengajak Fifi untuk berciuman dengan saya.“Sstss.. Sstss.. Mmh..”Sambil
berciuman dengan Fifi, saya memasukkan penis plastik itu keluar masuk
dengan irama yang teratur hingga pantat Levana bergoyang pelan. Rupanya
Ana menikmati permainan penis plastik itu hingga meminta saya agar
cepat menaikkan tempo keluar masuknya penis plastik itu dalam
vaginanya. “Ayo fi, isap puting saya”“Iya, Ka..”“Sstss..
Mmh..” rintih saya agak keras karena Fifi bukan saja mengisap puting
saya, bahkan menggigit puting saya dengan gemas hingga saya merasa
nikmat dan mendorong penis plastik itu semakin cepat saja.“Sstss..
Sstss.. Sstss.. Bagi.. An.. Sstss.. Itu..” desis Ana mengarahkan saya
untuk menyodokkan penis itu pada bagian lubang vaginanya.Permainan
dengan Ana membutuhkan waktu yang lama karena ia menahan irama
birahinya hingga pinggul saya pegal-pegal, kemudian setelah saya lelah,
saya menyuruh Fifi untuk ganti menindih Levana dengan penis plastik
itu. “Fi, gantian ya, saya capek nich”“Ya, ayo
sini” jawab Fifi sambil memasang penis itu dan langsung memasukkannya
dalam vagina Levana dan mereka pun bermain dengan bernafsu hingga Fifi
melahap bibir Ana dengan ganas.Saya pun menyelipkan tangan di
antara payudara mereka dan meremas-remasnya supaya Ana cepat orgasme.
Dan akhirnya Levana melepaskan ciuman Fifi dan memintanya agar lebih
cepat. “Sstss.. Sstss.. Sstss.. Ayo.. Fi.. Cepetan..”“Saya..
Sstss.. Mau.. Keluar.. Sstss..” rintih Levana hingga Fifi semakin
mendorong dengan cepat penis plastik itu hingga Ana bergerak-gerak liar
dan menjepit Fifi dengan kuat.“Sstss.. Arghh..” jerit Levana melengking karena cairan putihnya akhirnya keluar juga untuk terakhir kalinya.*****Pada
jam empat pagi baru kami tidur bersama, tentu saja dengan keadaan
bugil dan kepuasan yang tiada tara. Dan kembali tour kami lanjutkan
untuk wisata ke pantai Sanur dan pantai Kuta.Terima kasih pada
Bapak Hartono atas tournya, juga sahabatku Fifi dan Levana atas
pengalamannya bersama saya, kasih komentar ya atas cerita saya ini,
kalau ada yang kurang, konfirmasikan saja ke email saya.Pembaca
cowok dan cewek bisa curhat atau kenalan pada saya melalui email saya
atau memberikan tanggapannya mengenai kelainan saya ini, asalkan
disertai foto, terutama bagi cewek-cewek baik yang seksi maupun tidak
seksi hi.. hi.. hi.., pasti kubalas dengan foto bugil saya, eh maksud
saya foto seksi saya dan kalau ada yang mengajak jalan bersama, saya
ingin ikut dong.Jika tanpa foto, maaf saja, saya tidak bisa
membalas surat Anda. Dan buat sohib saya Fifi, Vita, Samantha, Aulia,
Febri, dan Levana, salam sayang selalu dan kangen, jangan lupa ya baca
cerita saya ini dan kapan nih kita mandi bareng lagi, pasti asyik deh.
Sekarang saya lagi fitness untuk mengencangkan payudara lho.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Aku Dan Sahabatku
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Untuk 17 Tahun Ke Atas :: Underground :: Cerita Panas-
Navigasi: