Forum ini adalah tempat berkumpulnya para Pecinta Bokep dan sejenisnya, jika kalian mempunyai foto, video, gambar atau sejenisnya yg lain-lain Share aja disini
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Korban Pelet 2 : SRI

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
valk880
Bayi
Bayi


Jumlah posting : 16
Reputation : 0
Join date : 03.10.11

PostSubyek: Korban Pelet 2 : SRI   Thu Jun 14, 2012 7:31 pm

Setelah puas dengan Gina (Korban Pelet 1), aku segera pergi menyusul
orang tuaku ke rumah Oom Dhar di Semarang. Oom Dhar sedang merayakan
resepsi pernikahan putrinya, Wulan yang biasa diistilahkan ngunduh
mantu. Dasar aku ini playboy tulen, tahu aja barang bagus. Mataku
berbinar-binar, dadaku berdentang-dentang dan pikiranku berubah ngeres
ketika sekilas ekor mataku menyambar sesosok mahluk menarik sedang
ngobrol dengan mempelai perempuan. Aku segera mendekati cewek cantik
itu. Dengan sedikit basa-basi aku perkenalkan nama.
"Hai, aku Dony, sepupunya Wulan," sapaku sambil mengulurkan tangan.
"Hai juga," jawab cewek itu malu-malu menjabat tanganku.
Wulan yang melihatnya tertawa mengikik. Aku segera menyikut bahunya agar tahu keinginanku.
"Dia Sri, temanku di kampus Don," ujar Wulan.
"Ohh.."

Jadi
temen kampusnya Wulan, toh. Pantas saja masih muda. Kuperkirakan usia
cewek itu sekitar 23 tahun. Mana kulitnya yang kuning langsat, hidungnya
mbangir, pipinya tembem tapi punya lesung pipit yang manis sekali.
Matanya bening menampakkan pribadi yang cerdas.
"Malam ini, Sri akan jadi pager ayunya Don," tambah Wulan yang kemudian dicubit kecil oleh Sri.
Ohh..
pantas. Malam ini Sri nampak cantik sekali dengan busana jawanya yang
melekat ketat di tubuhnya yang langsing. Nampak belahan dadanya
memisahkan kedua buah dadanya yang menggelembung menggiurkan. Air liurku
rasanya mau menetes kalau saja aku tak segera meneguk segelas jus yang
disuguhkan. Tapi hasratku untuk menikmati cinta Sri tak terbujukkan.
Segera saja setelah acara itu berakhir aku menawarkan diri untuk
mengantar Sri pulang. Dengan malu-malu cewek itu mau juga aku antar.
"Hati-hati lho Don," kata ibuku ketika kami hendak pergi.
"Sri jangan lupa pakaiannya kamu antar kesini lusa ya?" teriak Wulan dibalas anggukan oleh Sri.

Maka
melajulah mobil kijang keluaran terbaru itu berisikan aku dan Sri yang
masih mengenakan busana adatnya. Kami bercakap-cakap mengisi sepi. Dan
kiranya waktunya sudah tepat untuk melafalkan mantra.
"Geni abang
napsu abang, manjingo ing jabang bayine Dony Bara. Geni abang napsu
abang, manjingo ing jabang bayine wanito ing netro. Geni abang napsu
abang, lebur dadi siji ing lebur jiwo. Leburen jiwane manungal ing
jabang bayine Dony Bara. Lebur.. lebur.. lebur..".
"Sri.."
"Apa Mas?" jawab Sri menoleh padaku.
Fuhh..
hembusan angin berasal dari mulutku bertabur mantra dari Mbah Suro.
Dalam hitungan detik Sri segera terpengaruh. Matanya memandang sayu ke
arahku.
"Oke Sri, kita mau kemana nih?" pancingku mengetes pengaruh ilmu lebur jiwo.
"Terserah Mas Dony aja deh," jawabya dengan senyum yang tersungging di bibirnya yang merah terbalut lipstik.
Yess!!
Benar-benar berpengaruh. Aku segera membelokkan mobil ke sebuah hotel
terdekat. Hotel itu agak kecil tapi cukup nyaman. Aku segera memesan
sebuah kamar. Tak kuperdulikan recepsionist yang terbengong melihatku
membawa seorang gadis dengan busana adat jawa.

Sesampainya di kamar hotel aku segera memeluk Sri. Sri tak merasa keberatan bahkan membalas pelukanku. Kubisikkan ke telinganya,
"Cepat bersihkan dirimu, aku ingin kita bermain sepuasnya".
Sri
mengangguk mengerti. Dia segera membersihkan riasan di wajahnya dan
juga mencopot sanggulnya. Sedangkan aku sendiri menantinya sambil
melepas baju batikku yang panasnya bukan main. Sri melepas baju
kebayanya. Kemudian dia mendekatiku dengan hanya memakai kemben sebatas
dada. Kegempalan dadanya menyembul sebagian membuat batang penisku
terbangun.
"Mas Dony ingin aku membukanya?" tanya Sri dibawah pengaruh ilmu lebur jiwo-ku.
"Jangan dulu Sri, aku tak ingin buru-buru."
Tanganku
segera menjamah buah dada yang mengintip dari balik kemben itu. Aku
remas perlahan kedua bukit kembar yang membuatku ngiler sejak tadi itu.
Tanganku memang tak bisa leluasa meremasnya karena terhalang kain kebaya
Sri. Tapi nampaknya Sri sudah menikmati setiap remasan yang aku
ciptakan. Matanya terkatup rapat dan mulutnya menganga mendesis-desis,
"Sss.. Mass.. nakall sekalii..".

Segera
aku cium bibirnya yang kemudian dibalasnya dengan ciuman yang panas.
Kemudian kami saling melumat, beradu lidah dan bergantian mengisapnya.
Kemudian Sri meciumi pipiku, mataku, keningku, daguku.. Dijilati cuping
telingku, dan lidahnya menyodok-nyodok lubang telingaku. Darahku seakan
naik ke ubun-ubun. Semakin aku tarik kainnya dan kemudian aku paksa kain
itu lepas dari tubuh Sri yang sibuk menjilati leher belakangku. Kain
kemben itu lolos dari tubuh Sri meninggalkan BH tak bertalinya dan CD
putih tipis. Aku dekap tubuh Sri sambil meremas dada Sri yang masih
berlapis BH itu dengan penuh perasaan, lalu tanganku bergerak ke
punggungnya berusaha membuka pengait BH itu. Aku sudah berhasil melepas
pengait BH nya sehingga dengan bebas tangan kananku membelai dan meremas
buah dadanya yang keras sementara tangan kiriku masih tetap
mendekapnya. Mulutku pun menciumi leher jenjang Sri, sambil tanganku
memainkan puncak puting susu Sri yang kenyal dan mulai mengeras. Sri
memejamkan matanya meresapi setiap jamahan tanganku sedangkan bokongnya
terus maju hingga terasa gundukan kemaluannya menempel di penisku yang
sudah menegang.

Bagai sudah tak sabar untuk dipuasi, Sri
mendorongku hingga terduduk di pinggiran kasur hotel. Sri segera
melucuti CD tipisnya kemudian berjongkok didepanku lalu menarik
resleting celanaku. Aku segera membantunya karena rasanya adikku tak
tahan lagi lama-lama didalam. Calana dan CDku lepas terlempar ke lantai.
Dan adikku nampak tegang melotot kearah pemandangan yang wuihh.. itu.
"Wowww.. besar banget.. tegang lagi.." kata Sri melirikku nakal.
"Kamu suka?" tanyaku.
Sri mengangguk kemudian menjilati ujung penisku.
"Uuh.." desisku.
Sri
mencumbui seluruh permukaan batang penisku sampai ke pangkalnya lalu
memainkan isapan-isapannya. Lidahnya terus menari dan meliuk menyusuri
buah zakarku.
"Uuhh.. Srii.. achh.." rintihku sambil menjambak-jambak rambut Sri yang berbau hairspray.

Sri
segera memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya. Penisku seakan mau
meledak diisap-isap oleh Sri, bahkan lidah Sripun masih terus aktif
menjilati ujung penisku sedangkan jemarinya sibuk menarik-narik kecil
tiap-tiap bulu halus di kedua buah zakarku. Ach.. tiba-tiba otot-otot
penisku menegang.
"Aku keluar.. Sri.. eeghh.."
Ser.. ser.. air maniku mengucur melewati batang penisku dan croot.. croot..
Tak
ada waktu lagi buat Sri untuk menghindari muntahan air maniku. Srrup..
srruup.. Sri mengisap ujung penisku hingga air maniku habis keluar.
"Mmmhh.. aahh.. enak sekali Mas.." katanya sambil mengocok-ngocok batang penisku mencari sisa air maniku.

Setelah
cukup lama memanjakan adikku, Sri melemparkan tubuhnya ke atas kasur,
dan jatuh telentang. Langsung saja aku menyergapnya, dan aku cumbui
susunya dengan dorongan nafsu tingkat tinggi. Kini kedua tanganku
mengelus-elus pinggiran payudaranya, berputar sampai akhirnya meremas
bagian puncaknya. Sri menggeliat menahan segala hasrat hatinya.
"Oooh.. sshh.. terus.. Mas..!" desah Sri.
Aku jilati pinggiran buah dadanya, lalu merayap menuju puncak dan menghisap putingnya.
"Oh.. sayang..!" rintih Sri nikmat.

Tanganku
beralih menurun membelai-belai perut langsingnya hingga kemudian
merasakan gelinya bulu-bulu vagina Sri yang cepak dan becek. Kubekap
vaginanya kemudian kutekan berulang-ulang. "Oooh.. Mas.. ahh..!" desah
Sri sekali lagi.
"Asyik kan say..," dengusku sambil terus mencumbui
susunya berbanti-ganti. Berulang kali telapak tanganku tersembur oleh
cairan basah yang menyembur dari lubang kenikmatannya. Jari manis dan
telunjukku merenggangkan dinding vagina Sri. Lalu jari tengahku
mengorek-ngorek klitorisnya dengan penuh perasaan.
"Cumbui vaginaku Mas.. lakukanlah untukku.." rintihnya penuh nafsu.

Segera
kutarik kakinya hingga menggantung di bibir kasur. Kemudian aku
berjongkok menghadap bukit belah yang menyembul di pangkal pahanya yang
mulus kian menantang. Oughh.. rasanya penisku mau meledak. Kemudian
jemariku mengelus-elus bulu-bulu cepak itu. Sri menjerit tertahan saat
kucoba menguak kemaluannya dengan jari telunjukku. Tak sabar segera
lidahku menjilat-jilat isi bukit terbelah nan merah itu. Otot pahanya
meregang saat kuhisap clitorisnya.
"Ohh.. mmhh.. aahh.. teruus..
Mas.. yang dalam jilatin itilku.. hissaap.." suara erangan Sri memacu
semangatku. Kemudian aku singkap lubang kawinnya dengan jari manis dan
telunjukku. Kemudian jari tengahku membenam dan mengorek-ngorek lubang
sempit itu.
"Ouw.. ooh.. sshh.. Mas, saya nggak tahan.. cepet masukin penismu..!" pekiknya.

Aku
segera berdiri dan menarik kedua kakinya hingga menjepitan pinggangku.
Aku bimbing penisku yang sudah sangat tegang membesar agar menyentuh
bibir kemaluan Sri. Kudorong sedikit. Dia memekik sambil memejamkan mata
dengan rapatnya. Kutahan nafas. Lalu kutekan lagi. Kutekan. Dan kutekan
terus. Tak memperdulikan rintihannya. Setahap demi setahap kutambah
tenaga dorongku. Hingga kemudian dia menjerit, merintih keras, "Acchh..
sshh..!"

Uppss.. oohh.. lubang kawin Sri bagai menggencet batang
penisku, penisku serasa ingin remuk. Lalu segera kupompa hingga kami
merasakan nikmat yang tiada tara. Otot-otot vaginanya berkontraksi
memijat-mijat penisku menimbulkan rasa syur yang luar biasa. Tubuh Sri
bergoyang naik turun mengimbangi permainanku.
"Ahh.. enak.." erangnya
dengan mata terpejam. Sri terus bergoyang sambil sesekali menjerit
kecil. Susunya yang bengkak bergerak naik turun, aku langsung
meremasnya. Lalu aku menindihnya dan terus memompanya dari atas.
"Aaahh.. Mas.. terus.." erangnya.
Aku memompa terus naik turun sampai akhirnya Sri mengerang panjang,
"Ogghh.. terus Mas.. yeah.. nikmat sayang.. aku sudah hampir sampai.."
"Tunggu.. say.. sebentar lagi aku sampai.."
Kupacu
dia dengan irama yang lambat. Dia mengerang, menjerit, merintih dan
kemudian.. Sssuur.. cairan orgasme Sri menghangat di ujung penisku.
Spermaku mendesir lalu crrott.. croott.. air maniku keluar dengan
derasnya ke dalam lubang kawin Sri.
"Aku mencintaimu Mas Donny," bisik Sri sambil memeluk dan menciumi bibirku.

Aku
melepaskan pelukan Sri dan kemudian mencabut batang penisku. Aku
tersentak kaget ketika ujung penisku berlumuran lendir kenikmatan kami
dan darah.
"Sri, kamu masih perawan ya?" tanyaku.
"Sekarang tidak lagi." jawabnya sambil menyunggingkan senyum.
"Makasih ya say.." ujarku sambil kembali mencumbui bibirnya yang sexy.
Berarti
aku telah memerawani dua cewek dengan menggunakan ilmu lebur jiwo ini.
Dengan basuhan darah perawan, maka ilmu lebur jiwoku pasti akan tambah
sakti.

Aku beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan
tubuhku. Tapi rupanya Sri menyusulku sambil menggayut di pundakku.
Ketika sampai di kamar mandi kami saling membasuh di bawah guyuran air
shower. Sesekali tanganku dengan nakal meremas dada Sri yang masih
tampak membengkak.
"Berapa sih ukuran dadamu?" tanyaku.
"36," jawab Sri singkat sambil menikmati setiap sentuhanku.
"Bagaimana perasaanmu waktu bercinta denganku?" tanyaku lagi.
"Aku jadi pingin lagi dan lagi." jawab Sri sambil menjatuhkan diri di lantai kamar mandi.

Aku
segera menindih tubuh Sri yang mengkilap basah. Aku lumat kembali
bibirnya hingga kemudian aku berbisik lirih dan dekat di telinganya,
"Srii.. kamu di atas yah?"
Segera
kami berganti posisi. Sri segera naik keatas perutku dan dengan segera
di pegangnya batang penisku sambil diarahkan ke lubang kemaluannya yang
semakin licin. Slep.. slep.. bless.. batang penisku amblas semua ditelan
oleh bibir lubang kawin Sri.
"Aaach.. aku goyang ya Mas.." katanya
sambil memutar pantatnya yang bahenol. Rasanya nikmat menjalar dari
batang penisku hingga seluruh tubuh ketika Sri memutar batang penisku
dalam vaginanya makin lama makin cepat.
"Aaahh.. Sri.. enak banget ahh.."

Aku
segera terduduk sambil mulutku hinggap pada puting susunya, segera
kulumat dan kuhisap. Tangan Sri meremas-remas rambutku sedangkan
tanganku berpegangan pada bokongnya yang bahenol.
"Ahh.. uhh.. egghh.." suara Sri setiap kali aku menghentak-hentakkan penisku di dalam vaginanya.
Kugenjot
vaginanya dengan cepat. Gerakan Sri menggila setiap dia naik turun
diatas batangku yang terjepit erat oleh liang kenikmatannya. Kupompa
vaginanya sampai kami tak sadar bibir kami saling mengeluarkan desahaan
dan rintihan birahi.
"Shh.. aahh.. Mas.. Sri sampai nih" Rintih Sri sambil mendongakkan kepalanya.
"Kita bareng-bareng yah say.." kataku lalu menghunjamkan penisku semakin dalam.
Seerr..
serr.. croot.. croot.. croot kami keluar bersamaan. Libido kami
terpuaskan. Lalu aku mencabut penisku dari lubang surgawi Sri. Dengan
sisa-sisa tenaga kami bersihkan tubuh kami bersama-sama. Kemudian tidur
berpelukan dalam damai.

Pukul 05.00 Wib aku antar Sri sampai di
rumahnya. Ketika dia sudah masuk ke dalam rumah aku segera memutar
mobilku kembali ke rumah Oom Dhar. Segera aku lafal mantra pelepas
pengaruh lebur jiwo. Lalu aku segera mencari-cari alasan ketidak
pulanganku semalam
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Korban Pelet 2 : SRI
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Migrant Care Beberkan Kasus Perkosaan TKW

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Untuk 17 Tahun Ke Atas :: Underground :: Cerita Panas-
Navigasi: