Forum ini adalah tempat berkumpulnya para Pecinta Bokep dan sejenisnya, jika kalian mempunyai foto, video, gambar atau sejenisnya yg lain-lain Share aja disini
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Korban Pelet 1 : GINA

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
valk880
Bayi
Bayi


Jumlah posting : 16
Reputation : 0
Join date : 03.10.11

PostSubyek: Korban Pelet 1 : GINA   Thu Jun 14, 2012 7:29 pm

Aku berjalan gontai menuju rumahku sambil bersiul-siul kecil. Di
pelupukku terbayang hal-hal yang indah-indah. Mulai saat ini aku akan
dapat menaklukan wanita secantik apapun di dunia ini, karena aku sudah
mendapatkan ilmu Lebur Jiwa dari Mbah Suro. Jangankan Rani yang telah
menolak cintaku, Dian Sastro pun pasti berlutut di depanku. Tapi yang
terpenting aku harus membuktikan kesaktian ilmu Lebur Jiwa malam ini
juga.


Aku melangkah masuk ke pekarangan rumah. Sepi tak ada
hawa manusia. Kemana semua orang hingga pintu depan harus dikunci? Aku
segera membuka pintu dengan kunci serep yang kubawa. Didalam rumahpun
sepi senyap. Aku segera menuju ruang makan. Secarik kertas menempel di
meja makan. "Don, kami pergi duluan ke rumah Oom Dhar di Semarang. Kalau
sudah sampai rumah, segera menyusul. Ayah."

Bosan! Apa enaknya
sendirian di rumah. Mana nggak ada makanan di kulkas lagi. Dengan malas
aku pergi ke warung Mak Sani di ujung jalan. Tapi setibanya aku sampai
di warung Mak Sani. Wow, suit.. suit.. ada cewek cantik bener! Wajahnya
oval agak indo, bibirnya sexy, bola matanya kecoklat-coklatan, dan
bodynya.. wow montok banget! Gemuk dikit, tapi pas sama tingginya yang
kira-kira 170-an, pakai rok mini dan baju ketat lagi. Cuman kurang
ramah, waktu aku godain doski malah cemberut. Kebetulan nih! Bisa buat
bahan percobaan! Kalau yang indo saja mempan, apalagi yang jawa tulen,
iya nggak?

Cewek itu keluar dari warung. Aku mengejarnya, dengan segera melafal mantra yang sudah aku hafal sebelumnya.
"Geni
abang nafsu abang, manjingo ing jabang bayine Dony Bara. Geni abang
napsu abang, manjingo ing jabang bayine wanito ing netro. Geni abang
napsu abang, lebur dadi siji ing lebur jiwo. Leburen jiwane manungal ing
jabang bayine Dony Bara. Lebur.. lebur.. lebur.."
"Nona!"
Aku
panggil gadis itu sambil menarik tangannya sehingga dia berbalik
menghadap padaku dan wuss.. Hembusan nafasku menyembur menerpa wajahnya
sekali. Dan aku tinggal menanti reaksinya saja, menamparku ataukah..
"Iya, ada apa Don?"
Berhasil!
gadis itu menjawabku dengan senyum ramah, bahkan manja. Berarti
mantraku berhasil! Tanpa basa-basi lagi, langsung saja gadis indo itu
aku ajak ke rumahku.

Kami duduk-duduk di ruang tamu. Dan tak lupa
semua pintu dan jendela aku kunci dari dalam, telponpun aku blokir agar
tak ada yang mengganggu acaraku sore ini. Gadis itu nampaknya merasa
nyaman bersamaku.
"Nama kamu siapa?" tanyaku membuka percakapan.
"Aku Gina." jawabnya manis.
"Kamu kok bisa tahu namaku, apa kita pernah berkenalan?"
"Nggak. Tapi aku merasa kita sudah lama banget kenal. Sekarang ini aku merasa seperti merayakan reuni denganmu."
"Oh, begitu. Kalau begitu mesti dirayakan dong."
"Iya. Harus dirayakan."
"Kau mau minum?" tawarku disambut dengan anggukan. "Panas atau dingin?"
"Apapun yang kau mau." jawab Gina ringan.
"Apapun yang aku mau?" ulangku. Gina mengangguk dengan senyum lebar.
"Kalau selain minuman?" tanyaku mengejar.
"Apapun yang kau mau aku bersedia, Don." jawab Gina mendekat ke arahku.
"Apapun?" tanyaku sekali lagi.
"Apapun."

Gina
tersenyum menggoda. Tangannya menjamah tanganku lalu menuntunnya ke
arah pahanya yang sekal. Digesernya tanganku yang gemetaran terus naik
hingga menyingkap rok mininya sampai pada pangkal paha. Cd pink
bergambar kupu-kupu bersembunyi di balik rok yang sudah tersingkap itu.
Tiba-tiba saja aku merasakan penisku menegang. Mata Gina sayu sedikit
terkatup, meresapi setiap sentuhan jemariku di kulit pahanya. Cewek itu
kemudian mendekatkan bibirnya padaku dan cup.. bibir kami saling
mengecup. Sekali lagi bibir kami menyatu dan ehemm.. Gina melumat
bibirku penuh perasaan. Batang penisku semakin mengacung sedang nafas
kami mulai naik turun tak beraturan.

Gina memapah tanganku
melingkar di pungungnya lalu menuntunnya untuk melucuti rok mininya. Rok
mini warna hitam itu bablas hingga ke lantai dan aku bisa dengan
leluasa menikmati paha Gina yang indah. Aku ciumi paha Gina yang mulus
bagus itu bolak balik sampai pangkal paha.
"Uuuff.. Don.. aku minta
yang panas saja..," desis Gina sambil melepas kaos ketat dan BHnya
sekaligus kemudian melepas kaos yang kupakai. Aku berdiri melepaskan
jeansku. Gina menyusulku dan segera menjejalkan lidahnya ke dalam
mulutku. Kami saling memeluk hingga buah dada Gina menempel di dadaku.
Keempukan buah dada Gina membuat aku geli hingga membuatku merinding.
Lalu bibir Gina menurun menjelajahi leher dan dadaku yang berbulu
sedikit lebat.

"Kamu jantan banget Don," kata Gina sambil membelai bulu-bulu dadaku.
Kemudian
Gina mencumbui dadaku.. perutku.. ach.. sampai pusarku dan menjilatinya
beberapa saat. Aaach.. aku benar-benar terangsang oleh kecantikan dan
kemahiran Gina yang memanjakanku. Gina terus menjelajah seluruh tubuh
depanku. Bahkan ketika sampai di daerah kekuasaan penisku Gina
mencumbuinya dengan penuh daya rangsang. Diciuminya batang penisku yang
masih terpenjara dalam sangkarnya dan dengan senang hati Gina meloloskan
CDnya hingga nampak benar kalau penisku itu betul-betul bangun
mengacung-acung.

"Kau benar-benar hebat Don, pistolmu besar banget. Aku yakin kalau menembak pasti rasanya hi..hi.." kata Gina sambil tertawa.
"Kamu tahu dari mana kalau rasanya pasti.." tanyaku memancingnya.
"Coba deh, aku rasain.."
Uuachh..
edan! Gina menjilati ujung penisku. Cewek indo itu mengulum penisku
hingga setengahnya masuk ke dalam rongga mulutnya. Dan jemarinya sibuk
mempermainkan buah pelirku. Eehh.. rasanya benar-benar nikmat. Aku nggak
tahu kalau cewek ini bisa membuatku merasa sedasyat ini.
"It's nice taste, Don. Hebat banget.." katanya sambil terus saja menyepong penisku.

Tak
tahan aku jika harus diam saja. Segera aku loloskan CD pink dari bokong
Gina yang menungging. Nampak kedua bokongnya yang semok menantang.
Kuremas-remas bokongnya membuat Gina mendesah perlahan diantara sodokan
penisku di mulutnya. Dan segera saja aku gerayangi memeknya,
menyenangkan bisa bermain bebas diantara goa yang belum pernah aku
lakukan sebelumnya. Mungkin Gina merasa tak tahan lagi menahan rasa
nikmat yang diterimanya dengan posisi itu hingga akhirnya Gina
melepaskan penisku dari mulutnya dan tergeletak di lantai.

Tubuh
kita udah sama-sama bugil dan rasa malu kita udah ilang entah kemana.
Gina memandangiku yang berdiri didepannya dengan tatapan mata sayu dan
senyum yang menggoda. Akupun terpana pada tubuh bugil yang tiada
cacatnya terhampar di depanku. Ohh.. dua bukit yang membusung padat dan
montok, kulit tubuh yang putih mulus, serta bukit belah yang ditumbuhi
oleh rumput-rumput liar yang halus. Wuihh..
"Don, kok diam saja. Ayo lakukan yang kamu mau.. aku pasrah padamu.."
"Aku datang sayang.."
Aku
serang bukit belah itu dengan garang. Menjilat semua yang tersentuh
oleh lidahku dan menghisap semua yang tergenang disitu. Gina
berkelojotan sambil mendesis-desis. Tak ada ampun bagimu, Gina! Semuanya
akan jadi milikku. Klitoris Ginapun yang seukuran biji kacang tak luput
dari lidahku. Aku piting daging mungil itu dengan kedua bibirku lalu
aku sentil-sentil dengan lidahku.
"Oooh.. Doon.. Ach.. eenaak.." erang Gina memacu gairahku. Kedua kakinya menggapit kepalaku seakan ingin menawanku selamanya.
Tangan
Gina menarik tanganku sampai di kedua gundukan dadanya yang gempal dan
montok. Refleks aku remas kedua buah gunung kembar itu hingga membuat
Gina bergelinjangan nikmat.
"Uuohh.. Donny.. teruus sayaang.. aku sukaa.."

Setelah
puas aku lumat vagina mayoranya segera kualihkan perhatianku kepada
kedua gunung kembarnya. Buah dada Gina telah membengkak seukuran kelapa,
besar dan tegang. Begitupun kedua putingnya yang sudah mengeras
berwarna merah marun. Gina yang menyadari kalau aku memandangi kedua
gunung kembarnya yang indah segera mempermainkan kedua adiknya itu. Gina
meremas-remasnya sendiri sambil memutar telapak tangannya bolak-balik.
Begitu bulat kedua buah dada itu dan begitu mengkilap oleh keringat
Gina.

"Kemarilah Doon.." ujarnya.
Gina sambil menarik tanganku
hingga aku harus berdiri di atas tubuhnya. Kemudian Gina menggapai
batang penisku hingga aku mesti berjongkok di atas buah dadanya. Aku tak
tahu apa yang akan Gina lakukan, yang penting aku merasakan nikmat
ketika batang penisku menegang di belahan buah dadanya. Begitu nikmatnya
ketika kedua gunung kembar itu menjepit batang penisku. Kubantu jemari
Gina yang meremas buah dadanya hingga tampak menjadi satu menjepit
batang penisku. Aku tarik batang penisku perlahan-lahan dan lalu aku
dorong kembali. Sampai kemudian bibir Gina menangkap kepala penisku dan
kembali menjilatinya dengan garang. Ouuhh.. aku bagai terkencing-kencing
dibuatnya. Maka sebagai pelampiasan tangan kananku kembali
mengutak-atik goa kenikmatan Gina yang kembali membanjir.

"Doon.. kamu nakal sekalii.." desah Gina.
"Tapi kamu suka kan Gina sayaang.." balasku
"He eh.. Uuff..ach.."
Gina
semakin memekarkan selakangannya hingga jemari kananku makin bebas
merogoh semua yang tersembul di pangkal selakangan itu. Gina semakin
mendesis dan menambah kecepatan menjilati kepala penisku. Dan akupun
semakin mempercepat gerakan menggoyang kedua buah dada sebesar kelapa
itu. Penisku menegang hebat, seperti ada yang mendorong dari dalam baang
penisku dan rasanya.. aahh.. crot croot.. Spermaku muncrat ketika ujung
penisku itu masih diganyang Gina. Kapasitas yang cukup banyak menetes
disela-sela bibir Gina.

"Telan sayang, telan.."
Kata-kataku
bagai perintah. Mau tidak mau, Gina menelan seluruh sperma yang berada
di rongga mulutnya. Entahlah rasa apa yang dia kecap, tapi yang pasti
nikmat. Sebab kemudian Gina menjilati sperma di luar mulutnya dan
kemudian memburu sisa-sisa sperma di kepala penisku hingga tandas.
"Ehmm
ach.. Doon, keluar lagi dong.." kata Gina sambil memijit-mijit penisku
dengan jemarinya. Pijitan itu membuat darahku bagai berhenti. Dan aku
sudah tak tahan lagi.

"Sebentar sayang, aku masuk dulu yach.."
"Heeh."
Gina
melebarkan selakangnya hingga bukit belahnya benar-benar mekar
terbelah. Dinding-dindingnya berwarna merah berhias klitoris mugil yang
mengemaskan. Aku segera mengacungkan batang penisku yang sudah mau
meledak. Aku tuntun adikku itu memasuki lubang kawin Gina yang bersimbah
lendir-lendir surgawi. Licin permukaannya hingga tak mudah memasukkan
kepala adikku itu. Aku coba sekali lagi dan ah.. masuk! Sedikit demi
sedikit aku masukkan penisku memasuki lorong yang sangat sempit itu.
"Auhh Doon.. cepetan dong.. sakit.." rintihnya.
"Sabar say.."
Memangnya
hanya Gina saja yang sakit, aku juga sakit merasakan batang penisku
bagai remuk digencet dinding-dinding lubang kawin Gina yang bukan main
sempitnya.
"Aaach..Uuugh..Doon.."
Krak! Kepala penisku sudah
menembus ke dalam selaput daranya. Hah! Lega. Lubang kawin Gina menelan
seluruh batang penisku. Aku diamkan sebentar sebelum kemudian aku tarik
dan dorong keluar masuk agar lorong itu makin lebar. Lendir kawin Gina
membasahi liang kawinnya hingga goyangan batang peniskuku semakin
lincah.
"Hooh.. uh..ach.." desah kami saling berlomba menikmati setiap getaran yang tercipta.
Gerakan
penisku semakin lincah mengocok lubang kenikmatan Gina hingga
menimbulkan bunyi kecipak-kecipak tanda bahwa Gina berada di puncak
kenikmatannya. Pingul Gina bergoyang-goyang naik turun mengiringi
gerakanku.

"Doon.. aku nggak tahan lagi.. aku mau keluar.." erang Gina.
"Tahan sebentar Gin, aku datang.."
"Aaach..!" erang kami bersamaan.
Fantastik
sekali. Kejang diseluruh tubuhku diakhiri oleh keluarnya sperma yang
memenuhi lubang kawin Gina. Ujung penisku menghangat seakan menyentuh
cairan lain. Kutarik penisku dari lubang kawin Gina. Nampak darah
membercak di kepala penisku yang masih menegang. Gina mendesis-desis
menikmati segala kenikmatan yang barusan kami lalui.

Tapi aku
masih belum puas malam ini. Aku harus kembali membangkitkan gelora
asmara Gina. Segera saja aku remas buah dadanya. Aku permainkan kedua
putingnya yang kembali menegang lalu aku jilat perlahan.
"Ach.." desis Gina merespon.
Melihat
respon Gina, aku jilati bahkan kukulum kedua puting Gina secara
bergantian. Gina berkelojotan meresapi semua keindahan yang kembali aku
ciptakan. Habislah kedua payudara Gina itu aku kulum, aku hisap bahkan
aku gigit-gigit dengan gemas. Gina tak marah, hanya merintih-rintih
kesakitan. Tapi justru rintihan itu semakin membakar birahiku.

Aku
puaskan diriku sediri dengan mempermainkan setiap lekuk tubuh Gina
karena Gina nampaknya sudah tak memiliki tenaga cadangan selain mendesis
dan mendesah. Dan ketika aku sudah puas segera aku minta Gina
menindihku. Gina menusukkan ujung penisku tepat dilobang kawinnya. Dan
kemudian kami saling mengocok. Seperti layaknya bibir kawin Gina yang
melumat penisku, bibir kamipun saling melumat, sedangkan buah dada Gina
yang menggantung bebas sekali-kali menyentuh kulit dadaku hingga
menimbulkan rasa nikmat tersendiri. Gina menjadikan rambutku sebagai
pegangan, tapi aku menjadikan bokong Gina sebagai pegangan.
menguntungkan sekali bukan? Karena aku bisa dengan bebas membelai bokong
mulus itu. Namun sekali lagi tiba-tiba tubuhku mengejan.
"Gin, aku mau keluar sayang.."
"Tunggu Doon.. tarik dulu penismu."
Gina
melepaskan ciumannya dan mengarahkan batang penisku ke mulutnya. Dan
croot.. crot crot! Seluruh spermaku membanjir di mulut Gina. Dan tanpa
jijik ditenggaknya seluruhnya sampai tandas kemudian menjilati ujung
penisku hingga bersih.

Tapi sentuhan lidahnya yang penuh birahi
membuatku ingin sekali lagi menusuknya. Maka segera saja aku minta Gina
menungging. Dan sekali lagi aku tusukkan batang penisku dari belakang.
Amblas seluruhnya menyisakan kenikmatan yang kembali terulang. Gina yang
berulang-ulang mencapai puncak birahinya seakan ingin terus dan terus
mengulanginya. Diremas-remasnya buah dadanya sehingga keindahan itu
terasa lengkap. Dan kamipun mengakhirinya dengan kelelahan yang terhapus
oleh sisa-sisa keindahan.

Aku antar Gina sampai pagar depan.
Cewek indo yang baru saja aku perawani itu tersenyum mesra dan kemudian
menghilang di balik rumah Pak Yulius. Aku rebahkan tubuhku di atas sofa
ruang tamu. Kembali aku ingat pergumulanku selama tiga jam bersama Gina.
"Gina aku sudah tak membutuhkanmu." gumamku.
Geni
abang napsu abang, ngilango soko jabang bayine Dony Bara. Geni abang
napsu abang, nyingkriho soko jabang bayine Gina. Geni abang napsu abang,
ngilang soko lebur jiwo. Ngilango lebur jiwo soko jabang bayine Dony
Bara. Ngilang musno..
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Korban Pelet 1 : GINA
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Migrant Care Beberkan Kasus Perkosaan TKW

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Untuk 17 Tahun Ke Atas :: Underground :: Cerita Panas-
Navigasi: