Forum ini adalah tempat berkumpulnya para Pecinta Bokep dan sejenisnya, jika kalian mempunyai foto, video, gambar atau sejenisnya yg lain-lain Share aja disini
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 LIA, sekretaris SEXY

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
valk880
Bayi
Bayi


Jumlah posting : 16
Reputation : 0
Join date : 03.10.11

PostSubyek: LIA, sekretaris SEXY   Thu Jun 14, 2012 7:18 pm

Hari itu aku datang ke kantor sekitar pukul 9.30 pagi. Sebenarnya aku
malas untuk masuk kerja hari ini, tetapi akan ada rapat bulanan yang
diikuti semua departemen. Terlebih ayahku akan datang juga dalam rapat
itu, jadi akupun harus masuk kerja.

Sebenarnya aku lebih suka
pergi dengan teman kuliahku dulu di Amerika yang datang ke Jakarta. Dia
ingin aku ajak jalan-jalan.. Tapi yach karena ada rapat sialan ini aku
harus tunda deh sampai malam nanti. Aku sudah janjian dengan dia, akan
aku jemput sehabis pulang kantor nanti. Eh.. Dia malah menolak dan
bilang dia yang akan ke kantorku sore nanti. Dia bilang tidak apa harus
menunggu karena dia bisa bertemu dengan sekretarisku, Lia.

Temanku
itu, Jason, orang amrik asli. Pernah dia main ke kantorku dan tampaknya
dia terpesona dengan kecantikan dan kesexyan Lia. Memang sekertarisku
itu cantik dan sexy sekali. Dia berumur 24 tahun, berkulit putih dengan
tinggi 175 cm. Posturnya yang tinggi dan langsing, didukung dengan buah
dadanya yang besar(mungkin 36C).

Wajahnya sekilas mirip Lyra
Virna bintang sinetron itu. Dia lulusan akademi sekretaris dan fasih
berbahasa Inggris. Tak heran kalau si Jason suka sama dia dan selalu
mengajak ngobrol kalau ketemu. Tetapi aku sudah peringatkan si bule itu,
kalau sekertarisku tidak boleh diganggu. Hanya aku yang boleh
menikmatinya.. (disamping tunangannya kali ye..).

Begitu masuk ke
lobby, aku berharap melihat Noni di sana. Tapi ternyata yang ada di
meja resepsionis bukan dia tapi si Agus office boy kantor.

"Selamat pagi Pak" Agus menyapaku.
"Pagi.. Lho kok kamu yang di sini, Noni mana?"
"Hari ini nggak masuk Pak"
"Kenapa?"
"Maaf Pak.. Saya nggak tahu"

Wah..
Kenapa ya si Noni nggak masuk hari ini. Apa karena dia tidak tahan lagi
dengan perlakuanku pada dia.. pikirku. Begitu masuk ke ruanganku, aku
telpon Ibu Diana atasan langsungnya.

"Bu Diana.. Noni kenapa kok tidak masuk?" tanyaku
"Oh..
Anu Pak Robert.. Anu. Si Noni minta ijin.. Apa.. Ibunya masuk rumah
sakit.. Tadi pagi dia telpon saya." Ibu Diana ini memang selalu gugup
kalau bicara denganku.

Dia sudah bekerja lama di kantor dan sudah berumur juga. Sejak ayahku merintis perusahaan ini, dia sudah bergabung.

"Terus kamu ijinkan?" tanyaku.
"Iiya Pak.. Maaf Pak.."
"Ya sudah. Ijin berapa hari?" tanyaku.
"Dua hari Pak"
"Apa?? Dua hari?? Tidak bisa!! Bilang sama dia harus masuk besok!!" perintahku.
"Baaiikk Pak Roobertt.."

Aku
memang sedang nafsu dengan keindahan gadis belia Noni ini. Hari ini aku
sudah berencana untuk memakainya sehabis meeting nanti. Beberapa kali
memang aku pakai dia sewaktu jam kerja hanya untuk sekedar oral seks
saja. Lain soalnya jika sudah jam pulang kantor. Jika sudah sepi aku
setubuhi dia di kantorku sementara kadang kala pacarnya menunggu di
lobby.

Eh.. Ternyata dia nggak masuk!! Ya sudah besok saja akan
aku hukum dia. He.. He... Hm.. Memikirkan apa yang akan aku perbuat esok
terhadap si Noni ini aku tersenyum sendiri. Aku harus kreatif nih..

Meeting
hari itu berlangsung sangat membosankan. Setiap kepala departemen
memberikan presentasi tentang kinerja bagian masing-masing. Aku sudah
tak sabar ingin cepat sore hari saja. Kulihat arloji Rolexku detiknya
kok terasa lebih lambat dari biasanya. Tapi karena ayahku ada di ruangan
itu, aku pasang wajah serius.. Walaupun dalam benakku yang terlintas
bukan mengenai sales turnover, competitive analysis, dan lain sebagainya
yang bikin orang ngantuk itu. Tetapi aku memikirkan mau aku ajak ke
mana si bule gila anak buah george bush itu.

Yang menarik
perhatianku, para manajer di ruangan itu tampak sesekali melirik ke Lia
yang duduk di sebelahku. Memang dia hari itu berpakaian sexy nan
mengundang hasrat setiap lelaki normal. Bajunya berleher agak sedikit
rendah sehingga belahan buah dadanya yang ranum nampak menggoda. Juga
roknya yang mini dan stokingnya menjadikan Lia begitu menjadi perhatian
manajer-manajer di ruangan itu. Akupun tersenyum dalam hati.. Bolehlah
kalian pelototin sekertarisku.. Asalkan tidak boleh sedikitpun
menyentuhnya.

Setelah meeting selesai, akupun kembali ke
ruanganku. Membalas e-mail termasuk beberapa e-mail dari temankui. Tak
lama Lia masuk ke ruanganku.

"Ada apa Lia?" tanyaku sambil masih mengetik e-mail di notebookku.
"Ini Pak.. Saya ada masalah sedikit" katanya.
"Coba ceritakan" kataku.

Lalu
dia menceritakan bahwa dia merasa terganggu dengan perhatian yang
berlebihan dari seorang karyawan di bagian IT bernama Junaedi. Ternyata
Junaedi ini jatuh cinta berat sama Lia. Dia sering membelikan coklat,
kue, kartu, bunga, dll. Yang paling mengesalkan Lia, si Junaedi ini
sering telpon ke rumah atau ke HP, kirim SMS dll.

"Padahal dia tahu saya sudah bertunangan Pak.. Tapi dia tetap nekat terus" Lia menambahkan.
"Yach habis kamu cantik sih " kataku.

Lia
tersenyum senang mendengar pujianku. Memang satu dua minggu terakhir
ini Lia nampak cemburu karena perhatianku terfokus ke Noni. Sudah agak
jarang aku berikan dia kenikmatan birahi seperti dulu. Tapi hari itu aku
jadi horny sekali melihat dia. Mungkin karena kecewa Noni tidak ada,
atau juga karena cara para manajer menelanjangi Lia dengan mata mereka
yang membuat aku bergairah. Tetapi tentu saja penampilan Lia hari itu
juga ok banget.

Tiba-tiba saja ada ide terlintas di benakku. Aku
tahu kalau Lia ini seorang eksibisionis. Dia memang suka kalau keindahan
tubuhnya dikagumi orang, hanya dia tidak mau kalau disentuh orang lain
kecuali tunangannya dan aku tentunya. Pernah aku setubuhi dia di depan
anak SMA, dan dia tampak sangat menikmatinya. Dia sendiri yang punya ide
seperti itu, dan menawarkan kepada anak cowok SMA yang kita temui di
mal untuk melihat dan memfoto kita saat bersetubuh.

Dapat
dibayangkan betapa hornynya anak itu melihat Lia yang dengan sengaja
menggoda dia saat bersetubuh denganku. Entah berapa kali anak tanggung
itu beronani ria.., tanpa mendapatkan kesempatan sekalipun untuk
menyentuh Lia. Mungkin hanya sedikit saat Lia meminta dia untuk membuka
pengait BHnya yang ada di bagian depan itu.

"Bagaimana kalau kita kerjain si Junaedi seperti anak SMA dulu itu?" usulku sambil tersenyum nakal.
"Hm..
Nanti kalau dia bilang-bilang sama yang lain gimana Pak?" Lia tampak
senang dengan ide itu walaupun agak cemas dengan resikonya.
"Ah.. Nggak mungkin dia berani begitu.. Terlebih dia juga nggak punya bukti"
"Iya
Pak. Kalau begitu boleh.. Biar tau rasa dia.. Masa jelek begitu mau
sama saya" kata Lia tersenyum. Hm.. Memang binal sekertarisku ini.

Hari
itu sekitar jam 3.30 aku pulang kantor. Aman.. Karena ayahku sudah
pulang sejak meeting selesai tadi siang. Aku ajak Lia tentu saja dengan
alasan mau ketemu klien. Sebenarnya aku tak perlu pakai alasan-alasan
segala, tetapi Lia merasa nggak enak dengan rekan-rekan sekretaris
lainnya. Jadi aku pura-pura bilang ke dia untuk bawa bahan presentasi
buat si klien di depan teman-temannya. Sebenarnya aku yakin kalau
kelakuanku dan si Lia ini sudah jadi rahasia umum di sini, tapi yach
memang si Lia ini ada-ada saja..

Tak lupa aku ajak si Junaedi.
Aku telpon Pak Erwan manajer IT untuk meminjam Junaedi dengan alasan
untuk memperbaiki PCku yang rusak di apartemenku. Memang PCku suka
ngadat.. Nggak tau kenapa.

Aku dan Lia sudah siap menunggu di
depan lift, baru si Junaedi nongol sambil membawa perkakas reparasinya.
Kurang ajar juga nih anak, pikirku. Masak bos disuruh nunggu.

"Maaf Pak.. Tadi ada yang ketinggalan" katanya beralasan.

Kamipun
langsung meluncur dengan Mercy silver metalik kesayanganku menembus
jalanan kota Jakarta. Lia duduk didepan disebelahku, sedang Junaedi
duduk dibelakang. Sabuk pengaman yang dikenakan Lia makin membuat buah
dada putih 36Cnya mencuat. Mata Junaedi sudah lirik sana-lirik sini,
tampak dari kaca spionku. Dia melirik paha mulus milik Lia yang
terbungkus stoking. Dari cara duduknya tampak Lia memang sengaja
menggoda dia.

Sebelumnya aku akan coba gambarkan tentang si
Junaedi ini. Dia berumur 22 tahun, dan tampangnya "nerdy" sekali. Yach
seperti professor linglung begitulah.. Memang orangnya pintar, tapi yach
itu tadi.. Penampilannya ancur-ancuran. Pantas dia kerja di IT yang
berhubungan dengan mesin bukan orang.

Dia sering diledek dan
diganggu oleh teman-temannya, terutama sih oleh Lia. Mungkin karena dia
kesal kok bisa ditaksir orang macam Junaedi ini. Omongan "najis", "hey
jelek..", "gila lu ngaca dulu donk.. Mana nafsu gua ama lo" itu yang
pernah aku dengar diucapkan Lia padanya. Pernah aku dengar si Junaedi
ini nangis karena nggak tahan dimaki-maki Lia. Gara-garanya si Junaedi
nekat mau traktir Lia waktu sehabis gajian. Bukannya diterima eh.. Malah
dimaki secara kasar oleh Lia di depan umum.

"Daripada traktir
gue mendingan lo nabung deh buat operasi plastik.. Kalau lo jadi ganteng
kayak Pak Robert mungkin gue baru mau ama lo" desas-desusnya sih begitu
yang dikatakan Lia saat itu. Wah.. Memang sekertarisku ini lain dari
yang lain. Cantik bukan main tapi juga kejam sama orang yang lebih
rendah dari dia. Juga liar di atas ranjang.. Hm.. Really my type of
girl..

Singkat cerita, kamipun sampai di apartemenku. Di dalam
lift Lia sudah mulai beraksi. Dia menciumiku sambil matanya tak henti
menatap Junaedi yang tak berkedip menatap. Lia tampak senang sekali
melihat Junaedi sudah mulai bernafsu. Pintu lift terbuka di lantai 10,
dua orang masuk.., sehingga Liapun melepas ciumannya, tetapi tetap aku
rangkul pundaknya sambil kuelus-elus. Lia tersenyum menggoda sementara
Junaedi wajahnya mulai memerah..

Setelah sampai di apartemenku, Junaedipun bertanya di mana PCku yang rusak.

"Nanti saja" jawabku.
"Lho Pak.."
"Iya aku ingin membicarakan hal yang lain dahulu" kataku.
"Duduk!!" perintahku sambil menunjuk sofa yang ada di ruang tamu apartemenku.

Lia sudah tersenyum geli sambil tetap menggelendot di pundakku. Wangi tubuhnya sangat merangsang..

"Ada apa Pakk" Junaedi tampak takut dan gugup.
"Saya dengar kamu suka godain Lia ya? Hah?!!" bentakku.
"Nggak Pak.."
"Iya Pak bohong dia" kata Lia.

Kamipun duduk berhadapan dengan Junaedi. Lia aku rangkul di sebelahku. Tanganku mengelus-elus pundaknya.

"Kamu cinta ya sama Lia? Jawab yang jujur!!" tanyaku.

Junaedi nggak menjawab.. Hanya diam menunduk memandangi karpet ruang tamuku.

"Kamu
harus sadar diri donk.. Masa kamu mau sama cewek cantik seperti Lia"
kataku. Lia senyum-senyum sinis melihat Junaedi yang tetap menunduk.
"Kamu kalau diajak omong liat sini yach!!" bentakku.

Junaedi pun mendongakkan wajahnya penuh jerawat dan berkacamata tebal itu.

"Kesiann deh lo" kata Lia sambil tertawa..
"Cewek seperti Lia itu hanya untuk orang sekelas saya tau!!" kataku lagi.

Lia
mulai menciumiku. Akupun membalas ciumannya. Kemudian aku tarik Lia
berdiri dan kami berjalan kehadapan Junaedi yang masih duduk di sofa.
Lia berdiri didepan Junaedi dan aku dibelakang Lia sambil menciumi
lehernya yang jenjang.

"Lihat nih.. Kalau aku sih bisa menikmati wanita pujaanmu. Kalau kamu sebatas lihat aja yach" kataku.

Lia
tertawa kecil sambil berkata" dasar orang jelek nggak tau diri". Lia
kemudian mengangkat tangannya ke atas memeluk kepalaku. Buah dadanya
tambah membusung. Kubuka kancing bajunya satu persatu.. Akhirnya
lepaslah bajunya ke lantai. Aku buka juga BHnya, Lia tampak tersenyum
nakal melihat Junaedi. Junaedi tampak melongo melihat kejadian di
depannya itu. Mungkin baru pertama kalinya dia melihat buah dada seindah
itu. Aku remas-remas buah dada itu sambil aku pilin puting merah
mudanya yang mulai mengeras.

"Hmm Pak robertt.. Enak.." erang Lia.
"Jun, kamu pernah lihat buah dada seindah ini?" tanyaku.
"Be.. belum Pak" jawabnya menahan nafsu.
"Sekarang aku akan isap dan jilati buah dada Lia, wanita pujaanmu.. Kamu perhatikan baik-baik ya.." kataku.

Juanedi
tampak gelisah menahan syahwatnya. Kudekatkan kepalaku ke buah dada
ranum milik Lia, dan kuisap dan jilati putingnya. Tanganku yang satu
meremas buah dadanya yang lain. Sambil melakukan foreplay ini, kami
tersenyum kepada Junaedi

"Lihat nih jelek.. Kalau orang ganteng sih boleh menikmati buah dadaku" Lia berkata sambil tersenyum menggoda.

Tangan Junaedi sudah meraba-raba kemaluan di balik celananya. Melihat itu, Lia langsung aku lepas dari pelukkanku.

"Apa-apaan kamu.. Kamu mau mau masturbasi di sini? Jangan coba-coba yach!!" bentakku.
"Mau dipecat lo?" tanya Lia sambil tertawa kecil.

Junaedi langsung menarik tangannya ketakutan. Tapi tampak celananya sudah menonjol terdesak kemaluannya yang berontak.

"Kamu saya kasih hadiah deh.. Coba kamu bukain rok dan celana dalam Lia" perintahku.
"Benerr Pak?" jawab Junaedi senang. Mungkin dia berharap nanti akan dapat lebih lagi. Padahal sih nggak mungkin kali ye..
"Cepetan monyong.. Kapan lagi lu bisa liat bodi cewek secantik gue?" sahut Lia.

Junaedipun bangkit dari duduknya dan berjalan ke belakang Lia. Diturunkannya retsleting rok mini sekretaris cantikku itu.

"Awas kalau berani pegang-pegang yach" kata Lia.

Liapun
kini tinggal mengenakan celana dalam G-string hitam dipadu dengan
stoking yang sewarna. Melihat pemandangan itu, aku berubah pikiran. Aku
tak ingin celana dalam Lia dilepas. Rasanya lebih sexy kalau tetap
dipakai.

"Celana dalamnya biarin aja" kataku. Junaedi tampak kecewa
"Udah
ngapain lo berdiri terus di situ.. Duduk sana. Gue mau ngentot sama Pak
Robert nih.. Gue mau isepin kontolnya dulu.. Lo lihat aja ya.. Jelek"
Lia terus menggoda sambil mencaci Junaedi.

Liapun berlutut
didepanku. Celanaku dibukanya. Begitu juga celana dalamku. Sementara
akupun membuka kemeja dan dasiku. Lia mengenggam kemaluanku yang sudah
mencapai ukuran maksimal (20 cm) itu.

"Nih.. Baru cowok.." kata Lia pada Junaedi yang sudah gelisah menahan nafsunya.
"Kamu baru tahu khan.. Untuk cewek secantik Lia.. Ukuran harus besar.." kataku.

Liapun
mulai menjilati kepala kemaluanku sambil matanya tak henti menatap
Junaedi. Kemudian dikulumnya kemaluanku. Mulutnya yang mungil tampak
penuh dengan kemaluanku. Tak mampu Lia menghisap semuanya, mungkin hanya
setengahnya saja yang bisa ditampungnya. Kemudian Lia mengeluarkan
kemaluanku dari mulutnya, dan menjilati batangnya dan buah zakarku.
Kemudian dia mengulum lagi kemaluanku, begitu seterusnya. Selama itu
pula dia mendesah-desah sambil menatap Junaedi dengan pandangan
menggoda. Akupun sibuk menyibakkan rambut Lia agar tidak menutupi
pandangan Junaedi saat wanita pujaan hatinya ini sedang melakukan
oral-sex kepada bosnya. Mungkin baru kali ini si Junaedi melihat adegan
seperti itu.

"Lo liat khan.. Enak bangeth.. Ehm..." Lia terus mengulum kemaluanku.

Juanedi
tampak sudah tidak karuan lagi tampangnya menahan gairah. Ingin dia
melakukan masturbasi tetapi dia takut padaku dan Lia.

Kami lalu
pindah ke sofa di depan Junaedi. Lia duduk dipangkuanku menghadap
Junaedi sambil membelakangiku. Aku ciumi pundaknya lalu, dia menoleh
kebelakang, dan kamipun berciuman. Kusibakkan celana dalam G-stringnya,
dan vaginanya yang bersih tak berambut tampak merah merekah. Kuusap-usap
vagina dan klitorisnya.

"Uhh.. Pak Robert... Lia suka... Ahh.. Enak sekali Pak.." Lia sudah meracau tidak karuan.

Matanya
sudah menutup menahan gairah. Dia mungkin sudah lupa akan tugasnya
menggoda Junaedi. Saat tanganku meraba-raba vaginanya, Lia tampak
meremas-remas buah dadanya sendiri. Aku ciumi pundak dan lehernya dari
belakang sambil tersenyum menatap Junaedi penuh rasa puas bisa
menunjukkan kekuasaanku dan keperkasaanku di depannya.

"Masukin Pak.. Please.. Fuck me.. Fuck me.. I beg you " kata Lia meracau.

Akupun
mengarahkan kemaluanku ke liang vagina Lia. Kemudian Lia menurunkan
pantatnya yang sexy itu sehingga kemaluanku perlahan memasuki liang
nikmat sekertarisku ini.

"Oh.. My God... So big... I love you Pak
Robert..." Lia mengerang nikmat sambil menjerit tertahan. Memang
menurut Lia, ukuran tunangannya tidak begitu besar. Hanya rata-rata
saja, sehingga dia sangat puas bercumbu denganku.

Lia nampak sudah tak bisa mengontrol dirinya lagi. Pantatnya dinaik turunkan dengan liar sambil mengerang dan meracau

"Ohh.. Yess.. Pak.. Fuck me.. Oh so good..."
"Ohh... Yeah.. Ohh.. Yeah.."

Sekitar
15 menit kemudian diapun mencapai orgasmenya diikuti dengan lengkingan
suaranya melepas beban hasrat seksualnya. Kemudian kutarik Lia berdiri
dan aku ajak menghampiri tempat duduk Junaedi. Kusuruh dia berlutut
didepanku tepat didepan mata Junaedi.

"Ayo sayang isap... Sampai keluar ya"
"Sedangkan kamu perhatikan baik-baik" kataku pada Junaedi.

Lia
pun menghisap dan mengulum kemaluanku tepat didepan Junaedi. Tangan
kananku berkacak pinggang sedangkan tangan kiriku menyibakkan rambut Lia
agar Junaedi dapat melihat dengan jelas bagaimana cara memperlakukan
wanita secantik Lia.

Tak lama akupun merasa ada cairan yang akan
keluar, dan kemudian aku remas rambut Lia sambil menyemburkan cairan
ejakulasiku ke dalam mulutnya. Sebagian tampak meleleh keluar membasahi
dagunya dan jatuh menuju buah dadanya yang besar.

"Eh.. Lo jangan bengong aja.. Ambilin gue tisu" bentak Lia pada si Junaedi yang sedang tertegun melihat adegan kami itu.

Dengan
menurut, Junaedi mengambil tisu di atas meja.. Dan memberikannya pada
Lia. Lia membersihkan sisa-sisa spermaku di wajah dan buah dadanya,
terus memberikan pada Junaedi.

"Jelek.. Nih buangin" perintahnya.

Aku
tersenyum saja melihat perlakuan Lia pada si Junaedi ini. Tampak
semakin sexy saja sekretarisku ini ketika dia menunjukkan kuasanya pada
si malang kutu buku ini.

Setelah bersih-bersih, kamipun
mengenakan pakaian kami kembali. Kemudian kami memesan pizza untuk
mengisi perut kami berdua yang keroncongan setelah bertempur tadi.
Sementara itu si Junaedi aku suruh memperbaiki PC di kamarku.

Tiba-tiba
aku teringat janjiku dengan si bule Jason. Wahh.. Aku langsung telpon
dia untuk minta maaf dengan alasan ada meeting mendadak dengan klien.
Untung dia bisa mengerti dan bersedia mengubah janji untuk besok malam
saja.

Liapun lupa kalau dia belum telpon tunangannya. Dia
kemudian menelpon dan minta maaf karena harus ikut aku ke klien dan lupa
menelpon untuk tidak usah dijemput di kantor tadi. Dia tampak
kelelahan, hingga aku tawarkan untuk menginap saja di apartemenku
daripada pulang ke rumah ortunya di Tangerang. Diapun setuju lalu
mengabari ortunya kalau dia tidak bisa pulang dengan alasan-alasan
klise.

Tak lama Junaedipun selesai mereparasi komputerku. Katanya
ada masalah di memorinya. Memang pintar anak itu. Aku kemudian suruh
Lia untuk memberi dia uang untuk ongkos pulang. Liapun mengambil
beberapa lembar uang dari dompetnya dan kemudian memberikannya pada
Junaedi.

"Nih buat lo. Udah pulang sana. Awas ya kalau lo cerita-cerita" ancamnya.

Junaedipun
kemudian pamit pulang. Entah apa yang tadi ada di benaknya menyaksikan
adegan persetubuhanku dengan Lia wanita pujaannya. Aku rasa dia akan
masturbasi habis-habisan sesampainya di rumah Ha.. Ha..
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
LIA, sekretaris SEXY
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Untuk 17 Tahun Ke Atas :: Underground :: Cerita Panas-
Navigasi: